Sekolah Adat di Kutai Barat Dinilai Penting untuk Jaga Identitas dan Budaya
- 31 Agt 2026 21:14 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Penguatan sekolah adat di Kutai Barat (Kubar), dinilai penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal identitas, bahasa dan budaya daerah, di tengah tuntutan untuk mengikuti perkembangan zaman.
Salah Satu Anggota Tim Pertimbangan Kebijakan Bupati Kubar, Aditya Prasetyo, mengatakan kemajuan pendidikan bagi anak-anak harus berjalan beriringan dengan pengenalan terhadap budaya dan lingkungan tempat mereka berasal.
Pandangan tersebut disampaikan Aditya saat membuka sekaligus menjadi narasumber dalam semiloka penyusunan modul pembelajaran sekolah adat yang digagas Pegiat Budaya Kubar, Fidelis Nyongka, pada 28-29 Agustus 2026.
Program penyusunan modul tersebut merupakan bagian dari Festival Raya Budaya Etam Kaltim, yang digagas anggota DPR RI asal Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian, bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Menurut Aditya, anak-anak perlu mendapatkan pendidikan yang baik serta memiliki kemampuan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, hal itu tidak boleh membuat mereka kehilangan pengetahuan tentang identitas dan akar budaya sendiri.
"Anak-anak kita harus mampu maju mengikuti perkembangan zaman, mendapatkan pendidikan yang baik, serta mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga harus mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, bahasa dan budaya yang membentuk dirinya," ujar Aditya, Senin 31 Agustus 2026.
Aditya menilai sekolah adat memiliki peran strategis dalam proses tersebut. Keberadaannya dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal kebudayaan yang hidup di tengah komunitasnya, sekaligus menjaga proses pewarisan pengetahuan dari generasi ke generasi.
Ia secara khusus menyoroti pembelajaran bagi anak usia dini. Menurutnya, sekolah adat tidak semestinya dibuat menyerupai sekolah formal yang mengutamakan hafalan, tetapi harus memberikan pengalaman langsung kepada anak terhadap kebudayaannya.
"Khusus untuk anak usia dini, kita tentu tidak ingin Sekolah Adat menjadi sekolah formal kedua yang dipenuhi dengan hafalan," kata Aditya
Pemerintah Diharap Hadir Dalam Upaya Pewarisan Budaya Berkelanjutan
Lanjut dikatakan, anak-anak perlu terlebih dahulu diperkenalkan dengan budaya melalui proses mengenal dan mengalami secara langsung. Dari proses tersebut, diharapkan tumbuh rasa suka hingga akhirnya muncul rasa memiliki terhadap kebudayaan sendiri.
"Anak-anak harus lebih dahulu mengenal, mengalami, menyukai, kemudian merasa memiliki kebudayaannya sendiri," ujarnya.
Karena itu, penguatan sekolah adat tidak hanya berkaitan dengan keberadaan tempat belajar, tetapi juga bagaimana pengetahuan budaya dapat diwariskan melalui proses yang sesuai dengan karakter anak dan komunitas masing-masing.
Aditya mengatakan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk ikut memastikan proses pewarisan budaya tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan. Dukungan pemerintah diperlukan agar sekolah adat yang tumbuh dari komunitas dapat terus berkembang.
"Oleh karena itu Pemerintah harus hadir untuk mendengar, memfasilitasi, melindungi, memperkuat, serta membantu memastikan proses pewarisan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan," ucap Aditya.
Penyusunan modul yang menjadi bagian dari program Fidelis Nyongka, merupakan salah satu ruang untuk membahas pengetahuan adat dan budaya yang akan digunakan dalam pembelajaran sekolah adat.
Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyusunan modul, tetapi berlanjut pada penguatan kebijakan daerah agar sekolah adat memiliki ruang untuk tumbuh dan menjalankan proses pewarisan budaya secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....