Ketua TGM Luruskan Insiden Pengadangan UAS di Kutai Barat, Hanya Mobil Tim

  • 06 Jul 2026 14:38 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Ketua Taruna Gharda Mandiri (TGM) Kutai Barat, Alsiyus, mengklarifikasi insiden yang terjadi saat kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) di Bandara Melalan, Kutai Barat, pada Jumat 3 Juli 2026. Ia menegaskan masyarakat Kutai Barat secara luas tidak pernah menolak kehadiran UAS.

Menurutnya, insiden yang terjadi saat rombongan tiba di Bandara Melalan, Sendawar, bukan merupakan penolakan masyarakat secara umum, melainkan aksi yang dilakukan oleh sejumlah orang terhadap kendaraan tim penjemput.

Ia menjelaskan, sejak tiba di Bandara Melalan, UAS mendapat pengawalan dari Kapolres Kutai Barat, Dandim 0912/Kutai Barat, serta aparat keamanan hingga menuju lokasi menginap. Menurutnya, kendaraan yang ditumpangi UAS tidak mengalami penghadangan.

"Pak Ustaz Abdul Somad dijemput dan dikawal oleh Bapak Kapolres dan Bapak Dandim. Beliau sampai ke tempat menginap dengan selamat. Yang diadang bukan mobil yang ditumpangi Pak UAS, melainkan beberapa kendaraan tim penjemput, termasuk kendaraan saya," ujarnya saat ditemui di Sekretariat TGM, Kompleks Business Center Barong Tongkok, Senin 6 Juli 2026.

Alsiyus mengaku mobil yang dikendarainya sempat menjadi sasaran aksi massa hingga kaca spion mengalami kerusakan.

"Saya perlu meluruskan informasi yang berkembang. Mobil yang ditumpangi Pak UAS tidak dihadang. Yang terjadi adalah penghadangan terhadap kendaraan tim penjemput," katanya.

Menurut Alsiyus, situasi di Bandara Melalan pada awalnya berlangsung normal. Penyambutan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Presidium Dewan Adat Kutai Barat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta panitia pelaksana.

Ia menegaskan bahwa aksi tersebut tidak mencerminkan sikap masyarakat Kutai Barat secara keseluruhan.

"Saya tegaskan sekali lagi, Kutai Barat tidak pernah menolak kedatangan UAS. Yang keberatan hanya segelintir orang dan itu tidak mewakili masyarakat Kutai Barat," ucapnya tegas.

Alsiyus mengatakan saat itu sekelompok orang sempat meminta bertemu langsung dengan UAS. Namun, demi menjaga keamanan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, panitia bersama aparat keamanan memutuskan agar pertemuan tersebut tidak dilakukan.

"Sikap kami saat itu semata-mata untuk menjaga keamanan beliau dan memastikan seluruh rangkaian kegiatan tetap berjalan lancar," ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar organisasi kemasyarakatan di Kutai Barat, seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAG), Presidium Dewan Adat (PDA), serta TGM, telah menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan setelah melalui serangkaian rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan aparat keamanan.

Karena itu, Alsiyus mengajak masyarakat menyikapi setiap perbedaan pendapat melalui dialog dan jalur hukum, bukan dengan tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

"Kalau ada keberatan atau persoalan, sebaiknya disampaikan melalui jalur yang benar. Kita adalah negara hukum. Jangan sampai tindakan di lapangan justru merusak nama baik Kutai Barat," katanya.

Ketua Umum KONI Kutai Barat itu juga mengaku sempat melaporkan dugaan perusakan kendaraannya kepada Polres Kutai Barat. Namun, laporan tersebut kemudian dicabut karena memilih menyelesaikan persoalan dengan mengedepankan sikap saling memaafkan.

"Saya sudah memaafkan mereka dan laporan itu sudah saya cabut. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga persaudaraan dan kondusivitas di Kutai Barat," ujarnya.

Sebagai informasi, kunjungan UAS ke Kutai Barat dilakukan dalam rangka peringatan Harlah ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, yang turut dihadiri Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.

Selain kegiatan ponpes, UAS juga mengisi tabligh akbar di Masjid Al Muttaqin Islamic Center Melak. Seluruh rangkaian acara berlangsung khidmat dan lancar hingga rombongan kembali pulang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....