Fidelis Nyongka Bersama AMAN Kubar Bangun Sekolah Adat sejak 2017
- 31 Agt 2026 17:41 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Pegiat Budaya Kutai Barat (Kubar), Fidelis Nyongka, bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kubar, mulai mendorong pembentukan sekolah adat di tingkat komunitas sejak 2017.
Fidelis saat itu menjabat sebagai Ketua Harian AMAN Kubar dan menjalankan posisi tersebut selama sekitar 6 tahun hingga 2023. Pembentukan sekolah adat menjadi salah satu program yang didorong untuk memberikan ruang bagi komunitas masyarakat adat dalam mewariskan pengetahuan dan budaya kepada generasi muda.
Menurut Fidelis, sekolah adat tidak dibentuk dengan cara organisasi menentukan komunitas mana yang harus memiliki sekolah. Gagasan tersebut justru harus berasal dari masyarakat adat sendiri, sedangkan AMAN berperan memberikan fasilitasi.
“Waktu itu, salah satu program kami aman ini adalah membentuk sekolah-sekolah adat di tingkat komunitas,” ujar Fidelis, Senin 31 Agustus 2026.
Ketika dirinya mulai menjalankan program tersebut, sudah ada satu sekolah adat yakni di Sembuan, Kecamatan Nyuatan. Sekolah itu kemudian menjadi salah satu titik awal pengembangan sekolah adat di Kubar.
Fidelis kemudian ikut mendorong pembentukan sekolah adat di beberapa komunitas lainnya. Selama masa kepemimpinannya di AMAN Kubar, terdapat empat sekolah adat yang dikembangkan, yakni di Kampung Dingin, Dusun Payang dan Kampung Lambing, Kecamatan Muara Lawa serta di Kampung Keay Kecamatan Damai.
"Nah, zaman saya itu, sudah ada satu sekolah adat di Sembuan. Sudah selama hampir tujuh tahun itu, saya membentuk lagi empat sekolah adat lainnya yang saat ini masih aktif," katanya.
Untuk sekolah adat di Keay, Fidelis menjelaskan proses peresmiannya berlangsung setelah masa kepemimpinannya berakhir. Sekolah tersebut kemudian diresmikan oleh kepengurusan AMAN Kubar saat ini.
Sekolah Adat Penting Untuk Mengenal Identitas Komunitas
Menurut Fidelis, komitmen terhadap sekolah adat tetap dijalankan karena keberadaan ruang belajar merupakan kebutuhan komunitas. Masyarakat adat memiliki pengetahuan mengenai budaya dan kearifan lokal yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pembentukan sekolah adat bukan hanya membuat lembaga pendidikan baru. Yang lebih penting adalah menyediakan ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenai identitas dan pengetahuan yang hidup di komunitas mereka,” ucap Fidelis.
Fidelis juga melihat sekolah adat dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan pengetahuan yang mulai berkurang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak semua pengetahuan adat dapat bertahan secara utuh sehingga diperlukan upaya untuk mengenalkannya kembali kepada generasi muda.
“Mungkin tidak bisa dipertahankan 100%. Mungkin ada 50%, 75% tersisa, yang bisa diselamatkan,” ujarnya.
Karena itu, menurut Fidelis, pengembangan sekolah adat tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat adat sebagai pelaku utama. AMAN dan pihak lain dapat memberikan fasilitasi, tetapi arah dan kebutuhan pembelajaran tetap berasal dari komunitas.
Ia berharap sekolah adat yang telah dibangun bersama komunitas sejak 2017 dapat terus berjalan dan berkembang. Pengalaman tersebut juga menjadi dasar bagi dirinya untuk tetap mendorong keberlanjutan sekolah adat di Kutai Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....