Ismail Thomas Dorong Pemkab Kubar Lindungi Flora dan Fauna Lokal dari Kepunahan
- 24 Jul 2026 06:52 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Mantan Bupati Kutai Barat periode 2006–2016, Ismail Thomas, meminta Pemerintah Kabupaten Kutai Barat lebih serius melindungi flora dan fauna lokal yang mulai terancam punah. Ia mendorong pemerintah menerbitkan daftar spesies yang harus dilestarikan, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap pencemaran lingkungan akibat aktivitas ilegal.
Hal itu disampaikan Ismail Thomas saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat di Kompleks Lamin Taman Budaya Sendawar, Barong Tongkok, Selasa 21 Juli 2026.
Menurut Thomas, pelestarian adat tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kekayaan alam daerah. Ia menilai berbagai jenis buah-buahan lokal, satwa endemik, hingga tanaman khas Kutai Barat kini semakin sulit ditemukan sehingga membutuhkan langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat.
"Buah-buahan lokal mulai sulit dicari. Jangan sampai semuanya punah. Begitu juga satwa dan tumbuhan lokal yang menjadi kekayaan daerah harus kita jaga bersama," ujarnya.
Ia mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menerbitkan daftar flora dan fauna yang perlu dilindungi, kemudian melibatkan dinas terkait bersama Presidium Dewan Adat untuk menggerakkan upaya pelestarian hingga ke tingkat masyarakat.
Menurutnya, pelestarian lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. Generasi muda juga perlu dikenalkan kembali pada kekayaan hayati daerah agar memiliki kepedulian terhadap warisan alam yang dimiliki Kutai Barat.
Mantan anggota DPR RI ini juga menyoroti masih lemahnya pengawasan terhadap kerusakan lingkungan. Ia mencontohkan dugaan penggunaan merkuri dalam aktivitas penambangan emas ilegal di Sungai Kelian yang dinilai berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat dan merusak ekosistem.
“Ini yang payah Dinas Lingkungan Hidup. Nggak kedengaran sama sekali apa yang dilestarikan. Sampai-sampai waktu ada yang nambang emas ilegal di Sungai Kelian itu jelas pakai merkuri tapi tidak ditindak,” katanya.
“Di mana lingkungan hidup saya bilang gerak cepat situ. Karena merkuri ini tidak main-main. Merkuri bukan persoalan kecil. Dampaknya bisa sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Karena itu pengawasan harus diperkuat dan penanganannya tidak boleh lambat," ucapnya tegas.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, Thomas mengaku telah memulai penanaman berbagai jenis buah lokal di kawasan Hutan Kota seluas sekitar 85 hektare saat masih menjabat sebagai kepala daerah. Menurutnya, upaya tersebut dilakukan agar generasi mendatang tetap dapat mengenal dan menikmati kekayaan hayati khas Kutai Barat.
Ia berharap momentum HUT ke-25 Presidium Dewan Adat menjadi pengingat bahwa menjaga adat dan budaya harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Baginya, alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat adat dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya dalam kondisi tetap lestari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....