Desa Wisata, Kompor Tanpa Sumbu

  • 21 Agt 2026 21:00 WIB
  •  Semarang

Dalam lanskap pengembangan wilayah, kegagalan desa wisata biasanya dipicu oleh ketidakseimbangan antara supply (penawaran potensi lokal) dan demand (kebutuhan pasar pariwisata berkelanjutan). Banyak daerah berasumsi bahwa memiliki pemandangan alam yang indah sudah cukup untuk mendatangkan wisatawan secara konsisten.

Asumsi ini menutup mata kita dari kenyataan bahwa pariwisata adalah industri jasa yang sangat bergantung pada aksesibilitas, amenities, atraksi yang terstruktur, hingga tata kelola kelembagaan yang matang.

Ketika suatu desa bergerak sendirian tanpa pendampingan ilmiah, mereka cenderung terjebak pada pola copy-paste. Desa A membangun gardu pandang, Desa B ikut membangun hal serupa tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan (carrying capacity) maupun keunikan spasial setempat. Akibatnya terjadi homogenisasi produk wisata yang memicu persaingan tidak sehat antardesa.

Di sisi lain, keterlibatan pihak luar yang berlebihan tanpa pelibatan masyarakat lokal kerap berujung pada gentrifikasi—situasi di mana warga asli justru terpinggirkan dari manfaat ekonomi pariwisata di tanah mereka sendiri. Untuk memutus lingkaran setan ini, kolaborasi multidisiplin berbasis model Pentahelix menjadi prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....