Desa Wisata, Kompor Tanpa Sumbu

  • 21 Agt 2026 21:00 WIB
  •  Semarang

LINI masa media sosial kita hampir selalu disesaki oleh unggahan foto-foto estetik di berbagai pelosok desa. Lanskap sawah berundak, keasrian sungai, hingga spot foto buatan bergaya modern menjadi magnet baru bagi masyarakat perkotaan yang haus akan ketenangan.

Fenomena ini memicu lahirnya ribuan “desa wisata” baru di Tanah Air, didorong oleh program pemerintah daerah dan alokasi Dana Desa yang cukup masif. Sayangnya, dari perspektif geografi dan pembangunan wilayah, tidak sedikit dari desa wisata tersebut yang bernasib layaknya kompor tanpa sumbu: gagah dan membara di awal peresmian, namun redup dan mati begitu euforia berlalu.

Bangunan fisik senilai ratusan juta rupiah berubah menjadi monumen mangkrak yang terbengkalai, jalan-jalan buatan mulai ditumbuhi semak belukar, dan warga desa kembali pada rutinitas semula dengan rasa kecewa. Mengapa tragedi pembangunan ini terus berulang? Kesalahan fatalnya terletak pada cara pandang kita yang masih dangkal.

Desa wisata sering kali diperlakukan secara parsial—sebatas proyek pembangunan fisik atau sekadar pemolesan estetika visual belaka. Padahal, dalam kajian geografi wilayah, desa wisata adalah sebuah sistem sosial-ekologis yang hidup dan kompleks.

Mengelolanya secara tunggal, baik oleh pemerintah saja atau warga lokal saja, hanya akan berujung pada kegagalan struktural. Di sinilah pendekatan Pentahelix memegang peran kunci: sebuah arsitektur kolaborasi lima elemen yang merubah paradigma dari sekadar “membangun desa” menjadi “desa membangun.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....