Kekeringan Melanda 14 Kecamatan di Magelang, 15 Ribu Jiwa Butuh Air Bersih

  • 22 Sep 2026 14:25 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • kemarau
  • lereng Menoreh
  • Air bersih bantuan

RRI.CO.ID, Kabupaten Magelang – Kesulitan air bersih pada musim kemarau tahun ini melanda 14 kecamatan dan 31 desa di Kabupaten Magelang. Sekitar 2.500 kepala keluarga atau 15 ribu jiwa di wilayah tersebut membutuhkan pemenuhan air bersih akibat dampak kekeringan.

Kondisi tersebut juga dirasakan warga di sejumlah desa di lereng Menoreh, Kecamatan Salaman, termasuk Dusun Alun-alun, Desa Menoreh. Warga di dusun tersebut telah menghadapi krisis air bersih selama sekitar dua bulan dan masih mengandalkan bantuan dari berbagai pihak.

Warga Dusun Alun-alun, Dwi Ristiani, mengatakan kesulitan air bersih terjadi karena debit sumber air sumur warga mengalami penurunan drastis. Kondisi tersebut diperparah pasokan air bersih dari PDAM yang kurang lancar dan bahkan sempat tidak mengalir.

“Di musim kemarau seperti saat ini masyarakat Dusun Alun-alun mengalami kesulitan air bersih sudah sekitar dua bulan lalu. Masyarakat mengandalkan bantuan air bersih dari berbagai pihak, karena sumur milik masyarakat sudah mengering,” kata Dwi Ristiani, Selasa 22 September 2026.

Menurut Dwi, bantuan air bersih untuk warga datang dari berbagai pihak, seperti BPBD, PMI, Polresta Magelang, dan relawan organisasi kemasyarakatan. Bantuan tersebut dilakukan hampir secara bergantian dan ditampung dalam bak penampungan berkapasitas 5.000 hingga 6.000 liter air.

“Bantuan air bersih yang ditampung dalam bak penampungan tersebut kemudian digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup seperti memasak dan minum sehari-hari. Biasanya droping air bersih dilakukan hampir tiap tiga hari sekali,” katanya.

Ia menambahkan, air bersih bantuan yang ditampung dalam bak penampungan diprioritaskan untuk kebutuhan memasak dan minum. Sedangkan untuk mencuci dan kebutuhan lainnya, masyarakat memanfaatkan air sungai meskipun jaraknya cukup jauh dari permukiman.

Sementara itu, sumur yang masih memiliki air dimanfaatkan untuk minum ternak dan menyiram tanaman di sekitar rumah. Air tersebut tidak digunakan untuk konsumsi karena kualitasnya dinilai sudah tidak layak.

“Saat ini untuk air sumur masih ada, meskipun debitnya juga menurun. Namun, air sumur yang masih ada hanya untuk minum ternak dan menyiram tanaman, karena air sumur mulai keruh dan kadang mengeluarkan bau,” akunya.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto, mengatakan penanganan kesulitan air bersih tidak hanya dilakukan melalui distribusi air. BPBD juga mengupayakan pembuatan sumur bor serta jaringan air bersih melalui program pipanisasi.

“Penanganan kesulitan air bersih selain melakukan droping air bersih, kita juga mengupayakan membuat sumur bor dan pipanisasasi. Program pipanisasi tersebut dilakukan, bila ada sumber air bersih di dekat dusun, kita fasilitasi bantuan jaringan pipa air bersih,” kata Bambang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....