Meriahnya Pawai Taaruf MTQ, Sulap Jalan Protokol Semarang Jadi Panggung Budaya

  • 12 Sep 2026 14:18 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Jalan protokol Semarang mulai dari kawasan Balai Kota Semarang hingga Pahlawan berubah layaknya panggung budaya raksasa saat gelaran Pawai Ta'aruf Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026. Iring-iringan peserta dari berbagai daerah menampilkan kekayaan tradisi Nusantara dalam satu parade yang memikat perhatian masyarakat.

Sebanyak 46 defile dari berbagai provinsi, kabupaten/kota, serta instansi dan lembaga di Jawa Tengah ambil bagian dalam pawai yang menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer dari Balai Kota Semarang menuju Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah tersebut. Beragam pakaian adat, ornamen budaya, musik daerah, hingga atraksi drumband menghiasi sepanjang rute pawai.

Satu per satu defile kemudian melintas dengan membawa identitas budaya daerah masing-masing. Ragam busana adat dan simbol kearifan lokal dari berbagai penjuru Indonesia menyatu dalam satu arak-arakan yang penuh warna.

Tidak hanya kafilah dari provinsi peserta MTQ Nasional, sejumlah daerah dan lembaga di Jawa Tengah juga turut memeriahkan pawai. Kehadiran mereka memperkaya nuansa budaya yang ditampilkan sepanjang jalannya parade.

Salah satu yang menarik perhatian adalah defile Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang yang menghadirkan perwakilan berbagai agama. Kehadiran mereka menjadi simbol harmoni dan kebersamaan di tengah kemeriahan MTQ Nasional.

Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi sepanjang rute pawai. Warga berdiri di berbagai titik untuk menyaksikan penampilan peserta, mengabadikan momen, hingga memberikan sambutan hangat saat rombongan melintas.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar turut menyambut para peserta di garis kehormatan. Keduanya mengapresiasi semangat dan partisipasi daerah yang ikut memeriahkan Pawai Ta'aruf MTQ Nasional XXXI.

Taj Yasin juga menyampaikan terima kasih kepada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang mengirimkan defile terbaiknya. Menurutnya, pawai menjadi ruang untuk memperlihatkan kekayaan budaya sekaligus mempererat persatuan bangsa.

"Kita pengin menampilkan kebudayaan-kebudayaan dari berbagai daerah, untuk bersatu padu membangun Indonesia ini dengan lewat MTQ Nasional," ujarnya.

Gus Yasin menilai kemeriahan pawai membuktikan bahwa MTQ bukan hanya ajang syiar Islam, tetapi juga ruang kebersamaan seluruh elemen bangsa. Keberagaman yang hadir dalam satu barisan menjadi gambaran kuatnya persatuan Indonesia.

"Ini kita tahu bahwa ini adalah sebuah keberkahan buat kita bersama, tidak melihat suku, ras, agama, semuanya kumpul, kita bersatu," katanya.

Semangat tersebut sejalan dengan tema yang diusung Jawa Tengah dalam pawai taaruf tahun ini, yakni "Gumreget Nyawiji". Tema itu mencerminkan tekad untuk menyatukan keberagaman dalam semangat kebersamaan.

Bagi para peserta, Pawai Ta'aruf menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas. Setiap defile menghadirkan ciri khas yang mencerminkan identitas dan kekayaan tradisi daerah masing-masing.

Kafilah Papua Tengah menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian melalui penampilan budaya khas mereka. Sekitar 28 peserta mengenakan pakaian adat dan membawa berbagai ornamen yang merepresentasikan kekayaan budaya Papua Tengah.

Ketua Kafilah Papua Tengah, Wahyu Budi Santoso, mengatakan pihaknya sengaja menampilkan berbagai pakaian adat sebagai bentuk promosi budaya daerah. Simbol burung cenderawasih turut dibawa sebagai identitas khas Papua yang dikenal luas.

"Ya, dalam kegiatan pawai ta'aruf kami menampilkan pakaian adat-adat di Papua Tengah," katanya.

Peserta Papua Tengah lainnya, Emi Titin Indrawati, menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakan mewakili sejumlah suku di wilayah tersebut. Berbagai perlengkapan budaya seperti tifa, topi Papua, rumbai, hingga tongkat turut dibawa untuk melengkapi penampilan mereka.

"Ini pakaian baju adat Kamoro Amungme dari Papua Tengah, dan Damal dan sebagainya, tujuh suku di sana," ujarnya.

Kemeriahan serupa ditampilkan Kafilah Kepulauan Riau yang mengusung tema Tugu Bahasa. Simbol tersebut merepresentasikan sejarah bahasa Melayu yang menjadi salah satu akar lahirnya bahasa Indonesia.

Perwakilan Kafilah Kepulauan Riau, Sofyan Sulaiman, mengatakan tema tersebut dipilih untuk memperkenalkan warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia. Melalui pawai ini, mereka ingin mengingatkan masyarakat tentang peran bahasa sebagai pemersatu bangsa.

"Kita dalam pawai karnaval ini menunjukkan Tugu Bahasa. Bahasa sebagai salah satu budaya nasional," katanya.

Kafilah Kepulauan Riau mengirimkan 121 orang untuk mengikuti MTQ Nasional XXXI dan berpartisipasi di seluruh cabang perlombaan. Kehadiran mereka menambah semarak parade budaya yang berlangsung meriah di Kota Semarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....