Menag Sebut Indonesia Miliki MTQ Paling Meriah di Dunia
- 12 Sep 2026 21:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan kebijakan baru yang akan mengubah peta penyelenggaraan syiar Al-Qur’an di Indonesia. Mulai tahun mendatang, Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tidak lagi digelar dan akan digantikan dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang diselenggarakan setiap tahun.
Pengumuman tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Sabtu 12 September 2026. Menurutnya, keputusan itu diambil karena energi dan sumber daya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan STQ hampir sama dengan MTQ.
“Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ tapi yang kita lakukan adalah MTQ Musabaqah Tilawatil Quran,” kata Nasaruddin Umar.
Ia menegaskan MTQ merupakan pesta rakyat keagamaan terbesar di Indonesia bahkan dunia. Menurutnya, tidak ada penyelenggaraan MTQ internasional di negara lain yang semeriah dan sekonsisten Indonesia..
“MTQ yang paling semarak di dunia dilakukan di Indonesia dan yang paling konsisten mulai tahun 1968 sampai sekarang tidak pernah terputus,” ujarnya.
Nasaruddin juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, LPTQ Nasional, panitia, dan masyarakat yang telah mempersiapkan MTQ Nasional XXXI dengan sungguh-sungguh. Ia menyebut penyelenggaraan tahun ini menjadi momen bersejarah karena Jawa Tengah harus menunggu 47 tahun untuk kembali menjadi tuan rumah MTQ Nasional.
Mengusung tema Menebar Cahaya Al-Qur'an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban, MTQ Nasional XXXI tidak hanya menekankan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Menurut Menag, nilai-nilai Al-Qur’an harus diwujudkan dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
“Musabaqah Tilawatil-Qur'an diharapkan mampu menjadi momentum untuk menyambungkan kembali bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan, serta pengetahuan dengan keteladanan,” katanya.
Ia menegaskan kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an harus tercermin dalam akhlak, integritas, dan tanggung jawab sosial. Orang yang memahami Al-Qur’an, lanjutnya, semestinya menjadi pribadi yang paling dapat dipercaya, bekerja sungguh-sungguh, serta menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, Nasaruddin mengajak umat untuk mengedepankan nilai taaruf, ta’awun, dan tabayun. Sikap Qurani, menurutnya, harus menjadi benteng terhadap fitnah, hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai tindakan yang merusak persaudaraan.
MTQ Nasional XXXI juga membawa pesan inklusivitas melalui cabang ekshibisi Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas sensorik tuli dan pemanfaatan mushaf Al-Qur’an isyarat. Langkah tersebut menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an.
Selain menjadi ajang syiar, MTQ juga dinilai memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar. Kehadiran ribuan peserta, pendamping, dan pengunjung menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, UMKM, hingga industri kreatif di daerah penyelenggara.
Menag juga mengingatkan generasi muda agar mampu menghadapi perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan nilai moral. Ia berharap peserta MTQ tidak hanya menjadi juara perlombaan, tetapi juga tumbuh menjadi pendidik, pemimpin, ilmuwan, profesional, dan penggerak masyarakat yang membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke berbagai ruang kehidupan.
Menutup sambutannya, Nasaruddin mengajak seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan selama pelaksanaan MTQ. Ia juga mengajak masyarakat untuk memaknai MTQ sebagai momentum berhijrah dari sekadar memperindah bacaan menuju pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....