SPPG Soditan Klarifikasi Data Siswa SMAN 1 Lasem Terdampak MBG

  • 10 Sep 2026 21:57 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Rembang - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan, Kecamatan Lasem, mengklarifikasi data siswa SMA Negeri 1 Lasem yang mengalami gejala mual, muntah dan diare usai menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihak SPPG Soditan menyebut, berdasarkan hasil kroscek dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, terdapat 32 siswa t yang terverifikasi mendapat perawatan di fasilitas kesehatan.

Klarifikasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar pihak SPPG Soditan pada Kamis, 10 September 2026. Kuasa hukum SPPG Soditan, Abdul Mun’im, mengatakan dari 32 siswa tersebut, sebanyak 31 orang menjalani perawatan di Puskesmas Lasem, sedangkan satu siswa lainnya dirawat di Puskesmas Pancur.

“Rinciannya 31 dirawat di Puskesmas Lasem dan 1 orang di Puskesmas Pancur. Jadi total 32 anak, ini yang terverifikasi resmi oleh Dinas Kesehatan dan mereka semua sudah pulang ke rumah per hari Minggu kemarin,” ungkap Mun’im.

Sebelumnya, sempat beredar data sebanyak 777 siswa dan guru SMAN 1 Lasem mengalami sejumlah gejala, seperti mual, muntah dan diare setelah pembagian MBG pada Rabu, 2 September 2026. Mun’im menegaskan pihaknya tidak bermaksud menyalahkan data tersebut.

Menurutnya, angka 777 kemungkinan merupakan hasil pendataan awal yang dilakukan di tingkat sekolah. “Jadi kita tidak menyalahkan pihak yang menyampaikan data 777, tapi kami mengacu pada data Dinas Kesehatan,” ujarnya.

SPPG Soditan Lakukan Sejumlah Perbaikan

Di sisi lain, selama masa penghentian sementara operasional selama 20 hari, pihak SPPG Soditan mengaku melakukan sejumlah perbaikan sesuai rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Perbaikan tersebut di antaranya penataan saluran air serta ruang penyimpanan susu. Sejumlah evaluasi lainnya juga dilakukan selama masa penghentian sementara.

“Saluran air dengan tujuan pembuangan lebih lancar. Khusus ruang penyimpanan susu di dalam kan ruang ber-AC dan lembab ya, jadi untuk antisipasi kemungkinan munculnya hewan, kayak serangga gitu, kita tutup,” ungkapnya.

Menurutnya, setiap perubahan dan perbaikan yang dilakukan terus dilaporkan perkembangannya. Pihak SPPG juga memanfaatkan masa penghentian sementara untuk melakukan evaluasi terhadap sejumlah prosedur operasional.

“Ti ap perubahan, kami sampaikan progresnya. ada batas waktu. Di masa tutup sementara ini, kita manfaatkan betul, termasuk evaluasi check list kapan barang datang dan kapan masa kadaluwarsanya,” jelasnya.

Sebelumnya, SPPG Soditan mendapat sanksi penghentian sementara dari Badan Gizi Nasional (BGN). Hal ini menyusul kejadian dugaan keracunan yang dialami siswa SMAN 1 Lasem setelah menerima MBG pada Rabu, 2 September 2026.

Mun’im menambahkan, pihak SPPG Soditan telah berupaya melakukan pendampingan terhadap pasien yang mengalami keluhan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Bahkan, pihak SPPG setiap hari menjenguk dan saat pasien pulang ke rumah , pihak SPPG mengantarkan.

“Klien kami sudah berupaya melakukan langkah-langkah pendampingan kepada pasien. Sebagai bentuk pertanggungjawaban,” ucapnya. (Mif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....