Kekeringan dan Kebakaran Dominan, Kapasitas TRC Jateng Diperkuat

  • 07 Sep 2026 10:46 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Kekeringan dan kebakaran menjadi ancaman bencana yang saat ini paling dominan di Jawa Tengah. Kondisi tersebut mendorong penguatan kapasitas personel Tim Reaksi Cepat (TRC) di seluruh kabupaten/kota agar mampu melakukan penanganan bencana secara cepat dan efektif.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah hingga 30 Agustus 2026, tercatat 615 kejadian kebakaran dengan total kerugian mencapai Rp38,5 miliar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 282 kejadian merupakan kebakaran hutan dan lahan, sedangkan 333 lainnya berupa kebakaran bangunan dan permukiman.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan kemampuan personel di lapangan menjadi hal penting mengingat tingginya potensi bencana di wilayah Jawa Tengah. Personel dan relawan dituntut mampu merespons setiap kejadian secara cepat, terukur, dan terkoordinasi.

Hal tersebut disampaikan Luthfi saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel TRC Jawa Tengah di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Kabupaten Semarang, Minggu 6 September 2026. Menurutnya, kecepatan dan ketepatan respons menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak bencana.

“Jadi latihan itu perlu, untuk meningkatkan profesionalitas dan team work (kerja tim),” kata Luthfi.

Luthfi berharap personel yang mengikuti pelatihan dapat membagikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada personel di daerah masing-masing. Dengan demikian, peningkatan kapasitas penanganan bencana tidak hanya terpusat pada peserta pelatihan, tetapi dapat berkembang secara merata di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Menurut Luthfi, kekeringan dan kebakaran menjadi ancaman yang perlu mendapat perhatian karena membutuhkan kesiapsiagaan personel yang memiliki kemampuan teknis dan koordinasi yang baik. Penanganan sejak dini dinilai penting agar dampak bencana tidak semakin meluas.

Untuk menghadapi kekeringan, pemerintah bersama berbagai pihak telah menyalurkan sekitar 8,5 juta liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. Penanganan tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan melibatkan TNI, Polri, serta pemerintah kabupaten dan kota.

Luthfi juga menyoroti potensi kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA), termasuk kejadian di TPA Putri Cempo, Surakarta. Peristiwa tersebut menjadi pembelajaran agar pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran sejak awal.

Seluruh kepala daerah di Jawa Tengah diminta rutin melakukan pengecekan dan pemetaan terhadap potensi risiko bencana di wilayah masing-masing. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah mengeluarkan surat edaran sebagai pedoman peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran dan bencana.

Sementara itu, kondisi kekeringan telah terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Tengah dan berdampak terhadap kebutuhan air bersih maupun sektor pertanian. Pemerintah daerah terus melakukan pemetaan wilayah terdampak, sementara penguatan kapasitas TRC diharapkan dapat mempercepat respons ketika bencana terjadi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....