Dorong Budaya Literasi, Guru SMP di Kudus Dibekali Keterampilan Menulis

  • 19 Agt 2026 13:33 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kudus – Upaya memperkuat budaya literasi di Kabupaten Kudus dilakukan dengan melibatkan guru sebagai salah satu penggerak di lingkungan sekolah. Para guru SMP negeri maupun swasta dibekali keterampilan menulis melalui pelatihan In House Training (IHT) Penulisan Fiksi Mini di Aula SMP 1 Jati Kudus, Rabu, 19 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan sastrawan Heri Hendrayana Harris atau yang lebih dikenal dengan nama Gol A Gong dari Serang, Banten, sebagai narasumber. Pelatihan menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan literasi di Kabupaten Kudus, khususnya melalui lingkungan pendidikan.

Bunda Literasi Kudus, Endhah Ethayani, mengatakan guru memiliki posisi penting dalam membangun budaya literasi karena berinteraksi langsung dengan peserta didik. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan membaca dan menulis guru diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap kebiasaan literasi siswa.

“Tujuannya adalah literasi di Kabupaten Kudus. Kita coba lagi untuk bisa ditingkatkan secara lebih meluas,” ujar Endhah.

Menurut Endhah, guru tidak hanya berperan mengajarkan kemampuan membaca dan menulis kepada siswa. Guru juga perlu menjadi contoh dengan membangun kebiasaan membaca dan terus mengembangkan kemampuan menulis.

Pelatihan penulisan fiksi mini menjadi salah satu sarana untuk mendorong guru lebih aktif dalam kegiatan literasi. Dengan keterampilan tersebut, guru diharapkan memiliki pengalaman sekaligus karya yang dapat mendukung pengembangan budaya literasi di sekolah.

Sementara, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nurhayati, mengatakan penguatan literasi harus dimulai dari para pendidik. Menurutnya, guru perlu memiliki minat baca yang baik sebelum mengajak peserta didik melakukan hal serupa.

“Minat belajar di guru harus menjadi teladan anak didiknya. Sebelum mengajak, guru-guru juga harus mempunyai minat baca,” jelasnya.

Rahmah menilai gerakan literasi akan lebih kuat apabila melibatkan berbagai unsur secara bersama-sama. Tidak hanya sekolah, tetapi juga taman bacaan dan perpustakaan desa perlu mengambil peran dalam menyediakan ruang belajar bagi masyarakat.

Menurutnya, penguatan literasi juga membutuhkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah. Gerakan tersebut diarahkan untuk membangun budaya literasi masyarakat melalui pertumbuhan dan pengembangan perpustakaan di berbagai lingkungan.

Keberadaan perpustakaan, lanjut Rahmah, tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat untuk meminjam buku. Perpustakaan perlu menjadi ruang yang memberikan akses pengetahuan sekaligus mendorong masyarakat untuk terus belajar.

Perpustakaan diharapkan hadir tidak hanya dalam bentuk perpustakaan umum. Fasilitas tersebut juga perlu diperkuat di lingkungan sekolah, desa, maupun perangkat daerah agar akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan semakin luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....