Jateng Kokoh Jadi Penyangga Pangan Nasional
- 16 Agt 2026 21:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Memasuki usia ke-81, Jawa Tengah semakin meneguhkan posisinya sebagai salah satu penyangga utama pangan nasional. Dari jutaan ton padi yang dipanen setiap tahun, provinsi ini berkontribusi sekitar 15 persen terhadap produksi pangan Indonesia.
Peran strategis tersebut ditopang oleh kerja keras petani yang tersebar di berbagai daerah. Salah satunya terlihat di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, tempat lebih dari 100 petani yang tergabung dalam Gapoktan Sari Tani mengelola lahan sekitar 264 hektare.
Pada musim tanam kedua 2026, petani di wilayah itu mampu menghasilkan lebih dari enam ton padi per hektare. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga pasokan beras yang tidak hanya memenuhi kebutuhan Jawa Tengah, tetapi juga daerah lain di Indonesia.
Ketua Gapoktan Sari Tani, Joko Mursito, mengatakan perhatian pemerintah terhadap kebutuhan petani semakin terasa. Aspirasi terkait irigasi, listrik untuk sumur pertanian, alat mesin pertanian, hingga jalan usaha tani dapat disampaikan langsung kepada pemerintah.
“Alhamdulillah petani Desa Gentan senang, karena aspirasi kami langsung ditangkap Pak Gubernur. Kami merasa diperhatikan dan nyaman,” kata Joko Mursito, Minggu 16 Agustus 2026.
Komitmen menjaga ketahanan pangan menjadi salah satu fokus pemerintahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Berbagai program disiapkan untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
Pada 2025, produksi padi Jawa Tengah mencapai 9,39 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu meningkat sekitar 493.684 ton dibandingkan tahun sebelumnya dengan luas panen mencapai 1,67 juta hektare.
Kontribusi tersebut menjadikan Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia. Beras hasil panen petani Jateng mengalir ke berbagai daerah dan menjadi bagian dari kebutuhan pangan masyarakat nasional.
Produktivitas pertanian terus digenjot pada 2026 dengan target produksi padi sebesar 10,56 juta ton GKG. Hingga Juli 2026, produksi diproyeksikan telah mencapai 6,74 juta ton GKG atau sekitar 63,43 persen dari target tahunan.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menilai capaian itu lahir dari sinergi antara petani dan pemerintah dalam menjaga lahan pertanian, memperbaiki irigasi, menyediakan sarana produksi, serta memperluas pemanfaatan teknologi.
“Petani bukan sekadar penanam, tetapi penjaga masa depan bangsa,” ujar Luthfi.
Untuk mendukung peningkatan produksi, Pemprov Jateng menyalurkan bantuan benih dan sarana produksi padi bagi lahan seluas 47.200 hektare pada 2026. Dukungan serupa juga diberikan untuk komoditas jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah.
Pemerintah juga memperkuat perlindungan terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan. Hingga kini, sebanyak 26 kabupaten dan kota di Jawa Tengah telah memenuhi target perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebesar 87 persen.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan di tengah meningkatnya tekanan alih fungsi lahan. Dengan lahan yang tetap terjaga, produktivitas pertanian dapat terus dipertahankan dalam jangka panjang.
Manfaat dukungan pemerintah dirasakan langsung oleh petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Berkat bantuan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian, lahan yang sebelumnya hanya panen sekali setahun kini mampu ditanami hingga tiga kali.
Produksi padi di wilayah tersebut meningkat menjadi sekitar 7 hingga 7,5 ton per hektare. Kondisi itu membuat petani lebih percaya diri menghadapi musim kemarau yang sebelumnya menjadi ancaman utama.
“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” kata anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono.
Modernisasi pertanian juga terus diperluas melalui penerapan mekanisasi terintegrasi atau sistem sepur. Dengan pola tersebut, proses pengolahan lahan hingga penanaman kembali dapat dilakukan jauh lebih cepat dan efisien.
Pemerintah turut memperkuat infrastruktur pertanian melalui rehabilitasi ratusan jaringan irigasi serta distribusi berbagai alat dan mesin pertanian. Bantuan itu mencakup mesin tanam padi, traktor, pompa air, combine harvester, cultivator, dan alat pendukung lainnya.
Selain meningkatkan produktivitas, perlindungan terhadap risiko usaha tani juga menjadi perhatian. Pemprov Jateng menyiapkan Asuransi Usaha Tani Padi untuk lahan seluas 10.449 hektare serta subsidi bunga pembiayaan bagi ratusan kelompok tani.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan surplus produksi harus diimbangi sistem distribusi yang baik. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan manfaat hasil panen dirasakan lebih merata.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi, agar surplus ini bisa merata dan menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....