Direktur RS At-Tin Tegaskan Layanan BPJS dan Non-BPJS Miliki Standar yang Sama

  • 06 Agt 2026 19:10 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Direktur RS At-Tin Hospital, dr. Faris Amrullah, MARS., FISQua, menegaskan pelayanan pasien peserta BPJS Kesehatan dan pasien umum di rumah sakit memiliki standar medis yang sama. Perbedaan layanan hanya terletak pada kelas ruang perawatan sesuai hak peserta.

"Standar pelayanan kesehatan sudah diatur dalam Formularium Nasional. Obat-obatan yang digunakan untuk pasien BPJS maupun non-BPJS pada dasarnya sama karena sudah distandardisasi oleh Kementerian Kesehatan," kata dr. Faris dalam Media Gathering BPJS Kesehatan Cabang Ungaran di Boemisora, Kabupaten Semarang, Kamis 6 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, perbedaan yang kerap dirasakan masyarakat umumnya hanya pada jenis obat yang tidak masuk dalam cakupan pembiayaan BPJS Kesehatan, seperti vitamin atau suplemen tertentu. Sementara obat-obatan utama yang dibutuhkan pasien tetap diberikan sesuai standar pelayanan medis.

"Yang membedakan biasanya hanya kelas perawatan. Kalau obat-obatan krusial, infus, maupun alat kesehatan yang memang dibutuhkan pasien, semuanya sudah mengikuti standar yang berlaku," ujarnya.

RS At-Tin Hospital juga terus berupaya mempercepat waktu tunggu pasien melalui penguatan sistem pelayanan sejak proses pendaftaran, admisi, pelayanan poliklinik hingga Instalasi Gawat Darurat (IGD).Menurutnya, rumah sakit sengaja menjaga tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) pada kisaran 50-60 persen agar pasien dapat memperoleh pelayanan lebih cepat.

"Kami sudah menyiapkan sistem agar pasien yang datang, baik melalui poliklinik maupun IGD, dapat segera ditangani. Salah satu fokus kami juga memastikan dokter spesialis hadir tepat waktu sesuai jadwal praktik sehingga waktu tunggu pasien dapat ditekan," katanya.

Ia menambahkan, lamanya waktu tunggu pelayanan di setiap rumah sakit tidak dapat disamakan karena dipengaruhi kompleksitas layanan dan jumlah pasien yang ditangani. Oleh karena itu, setiap manajemen rumah sakit perlu terus melakukan pengelolaan pelayanan agar akses masyarakat terhadap layanan kesehatan tetap optimal.

Dalam kesempatan itu, dr. Faris juga mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk lebih bijak menggunakan media sosial, terutama saat memberikan komentar terkait pelayanan kesehatan yang sedang menjadi perhatian publik. Menurutnya, setiap pernyataan tenaga kesehatan harus mempertimbangkan aspek empati, khususnya ketika berkaitan dengan kasus yang melibatkan keselamatan pasien.

"Kita semua harus lebih bijak dalam bermedia sosial. Apa pun yang disampaikan dapat dengan cepat menjadi viral dan berdampak luas. Karena itu, setiap tenaga kesehatan perlu mengedepankan empati dan kehati-hatian dalam menyampaikan pendapat," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....