Dari Gabah ke Beras Sehat, Petani Kemetul Kabupaten Semarang Bidik Pasar Premium
- 29 Jul 2026 15:31 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang - Beras semi organik yang dikembangkan petani di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, mulai membidik pasar konsumen menengah atas. Produk tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mendongkrak pendapatan petani.
Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo mengatakan, pengembangan padi semi organik dilakukan melalui dem area seluas 10 hektare yang dikelola 21 petani tergabung dalam Gapoktan Sido Mulyo. Program tersebut saat ini masih berada pada tahap menuju produksi beras sehat.
"Ini masih semi organik menuju beras sehat. Untuk dem area ada 10 hektare dengan keterlibatan sekitar 21 petani," ujar Agus, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Agus, pengembangan padi semi organik telah berjalan hampir tiga tahun. Selama periode tersebut, produktivitas padi terus mengalami peningkatan dari musim tanam ke musim tanam.
Pada awal program, hasil panen rata-rata mencapai sekitar 6,7 ton per hektare. Namun pada panen terakhir, hasil pengubinan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas tertinggi mencapai 9 ton 24 kilogram per hektare, sedangkan hasil terendah sekitar 8,2 ton per hektare.
"Pada panen terakhir, hasil terbaik dari dem area 10 hektare berdasarkan pengubinan BPS mencapai 9 ton 24 kilogram per hektare. Hasil terendah sekitar 8,2 ton per hektare," katanya.
Agus menilai peningkatan produksi menjadi salah satu indikator keberhasilan program. Meski demikian, tantangan berikutnya adalah meningkatkan nilai ekonomi hasil panen melalui penjualan dalam bentuk beras, bukan lagi gabah.
"Harapan kami, hasil pertanian dari Desa Kemetul tidak hanya keluar dalam bentuk gabah, tetapi sudah menjadi beras. Dengan begitu nilai tambah bisa dirasakan petani," ujarnya.
Menurut Agus, beras semi organik memiliki peluang besar memasuki pasar konsumen yang lebih memperhatikan kualitas pangan. Pihaknya pun telah mulai memasarkan produk tersebut ke sejumlah konsumen di Kota Semarang dan Kota Salatiga.
"Kami sudah mencoba pasar menengah ke atas. Untuk beras semi organik atau beras sehat bisa mencapai Rp20.000 per kilogram," katanya.
Meski memiliki prospek pasar yang baik, pemasaran produk saat ini masih dilakukan secara terbatas melalui jaringan pribadi dan relasi. Oleh karena itu, pihaknya berharap dukungan berbagai pihak agar jangkauan pemasaran semakin luas.
"Kami masih door to door mengenalkan produk kepada teman-teman dan jaringan yang ada. Ke depan tentu membutuhkan dukungan agar pemasaran bisa lebih luas," ujarnya.
Selain mengembangkan padi semi organik, Desa Kemetul juga menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah tahu menjadi berbagai produk bernilai tambah. Salah satunya adalah pupuk organik cair (POC) yang dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian.
"Dari pengolahan limbah tahu bisa menjadi pupuk organik cair, kecap, biofit, serta ampas tahu yang dimanfaatkan untuk pelet pakan ternak," katanya.
Agus menjelaskan, pupuk organik cair tersebut telah melalui uji mutu dan uji efektivitas. Saat ini produk masih dalam proses pengurusan perizinan sebelum dipasarkan secara luas.
"Kami berharap ada dukungan pemerintah agar produk ini bisa berkembang dan memberikan manfaat lebih luas," ujarnya.
Sebelumnya, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha menyampaikan, pertanian semi organik terbukti mampu meningkatkan hasil produksi petani hingga sekitar 9,2 ton gabah kering panen per hektare. Pemerintah Kabupaten Semarang juga terus mendorong pemanfaatan teknologi pertanian modern guna meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....