Ekonomi Jateng Tumbuh 5,89 Persen, APBN dan APBD Kompak Surplus
- 29 Jul 2026 13:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut, perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Bahkan hingga semester I 2026, pertumbuhan ekonomi melampaui rata-rata nasional dan ditopang kondisi fiskal yang sama-sama mencatat surplus.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya, mengatakan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 tumbuh 5,89 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen dan menjadikan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa.
Kinerja positif itu ditopang stabilitas harga yang tetap terjaga sepanjang semester pertama tahun ini. Inflasi Jawa Tengah pada Juni 2026 tercatat 2,92 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.
"Rendahnya inflasi turut menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat aktivitas ekonomi daerah. Kondisi tersebut menunjukkan efektivitas pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan," ujarnya dalam siaran pers daring, Rabu, 29 Juli 2026.
Perbaikan juga terlihat pada berbagai indikator kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah, seperti Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 tercatat 4,24 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 4,74 persen. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah terus meningkat hingga mencapai 74,77 dan tingkat kemiskinan turun menjadi 9,39 persen pada September 2025.
Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga masih terjaga. Hal itu terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026 yang berada pada level 114,1 atau masih berada di zona optimistis.
"Di sektor pertanian, kinerja petani menunjukkan tren positif melalui peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi 118,27. Adapun Indeks Ketahanan Pangan Jawa Tengah tahun 2025 mencapai 73,73, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional," ujarnya.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan. Perlambatan aktivitas manufaktur yang tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia sebesar 46,9 pada Juni 2026 serta ketidakpastian geopolitik global berpotensi memengaruhi harga komoditas dan rantai pasok dunia.
Bayu lebih lanjut mengungkapkan, dari sisi fiskal, kinerja APBN Regional Jawa Tengah hingga 30 Juni 2026 juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pendapatan negara mencapai Rp60,98 triliun atau 46,56 persen dari target tahunan, tumbuh 13,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan tersebut berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp27,55 triliun, penerimaan kepabeanan dan cukai Rp29,46 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp3,98 triliun. "Kenaikan pendapatan menjadi salah satu faktor yang menjaga kesehatan fiskal di Jawa Tengah," tuturnya.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp50,60 triliun atau 51,91 persen dari pagu yang telah ditetapkan. Belanja tersebut terdiri atas belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp18,61 triliun serta transfer ke daerah sebesar Rp31,99 triliun.
Dengan realisasi pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan belanja, APBN Regional Jawa Tengah mencatat surplus sebesar Rp10,38 triliun. Kondisi ini menunjukkan fiskal pemerintah pusat di daerah tetap sehat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
Adapun, APBD Jawa Tengah terealisasi Rp50,26 triliun atau 49,29 persen dari target dan tumbuh 10,39 persen hingga akhir Juni 2026. Sementara, realisasi belanja daerah mencapai Rp41 triliun atau 37,37 persen dari target yang telah ditetapkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....