Gagal Lolos SMA Negeri, Anak Pengemudi Ojek Kejar Cita-cita lewat Sekolah Kemitraan

  • 13 Jul 2026 18:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kegagalan masuk sekolah negeri sempat membuat Rafa Fidianto khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Namun, putra seorang pengemudi ojek di Kota Semarang itu akhirnya tetap dapat bersekolah secara gratis melalui Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Hari pertama masuk sekolah menjadi momen yang membahagiakan bagi Rafa. Dengan seragam SMA yang dikenakannya, ia kini memiliki kesempatan untuk mengejar cita-cita menjadi seorang tentara.

“Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini karena bisa mendapat banyak teman,” kata Rafa saat berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di SMA Laboratorium UPGRIS Semarang, Senin 13 Juli 2026.

Kisah Rafa menjadi gambaran bagaimana Program Sekolah Kemitraan membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program tersebut juga memberikan kesempatan bagi siswa yang belum berhasil lolos seleksi sekolah negeri agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Cerita serupa dirasakan Kamdani, seorang buruh tani yang mengaku lega karena anaknya dapat bersekolah tanpa biaya. Dengan penghasilan yang tidak menentu, sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia kesulitan jika harus menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anaknya.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya.

Saat meninjau hari pertama pembelajaran Program Sekolah Kemitraan di SMA Laboratorium UPGRIS, Ahmad Luthfi meminta para siswa tidak merasa minder dengan kondisi ekonomi keluarganya. Menurutnya, masa depan seseorang tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh semangat dan usaha untuk meraih cita-cita.

“Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder, semangat,” ujar Luthfi.

Menurut Luthfi, siswa penerima Program Sekolah Kemitraan berasal dari berbagai latar belakang keluarga prasejahtera. Mulai dari anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yatim yang diasuh oleh kerabat.

“Namun, mereka tetap semangat untuk sekolah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk selalu memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, Program Sekolah Kemitraan menggandeng 139 sekolah swasta yang terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK di Jawa Tengah. Sebanyak 3.663 siswa diterima melalui program tersebut, meningkat dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.

Khusus di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa diterima melalui Program Sekolah Kemitraan. Mereka tersebar di SMA Laboratorium UPGRIS, SMK Bina Nusantara, dan SMK Ibu Kartini.

Selain mendapatkan akses pendidikan gratis, para siswa juga menerima bantuan perlengkapan sekolah dan sepatu. Sementara orang tua siswa memperoleh bantuan paket sembako dari Baznas Jawa Tengah untuk meringankan kebutuhan keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....