BPBD Purworejo Siagakan 7 Juta Liter Hadapi Kemarau Panjang 2026
- 04 Jul 2026 19:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo - Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) resmi memulai pendistribusian bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan musim kemarau 2026. Bantuan tahap awal disalurkan ke Desa Somorejo, Kecamatan Bagelen.
Sebanyak 15.000 liter air bersih dikirim untuk memenuhi kebutuhan sekitar 762 kepala keluarga di tiga dusun yang mulai mengalami kesulitan air bersih. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Purworejo, Muhammad Yuniarto mengatakan langkah ini diambil berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 berlangsung selama 14 hingga 18 dasarian atau sekitar 4,5 sampai 6 bulan. Di Purworejo, awal musim kemarau telah dimulai bertahap sejak April hingga Juni 2026,_ kata Yuniarto saat dikonfirmasi pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Yuniarto menjelaskan, untuk wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau meliputi Kecamatan Grabag, Ngombol, Purwodadi, Bagelen, Butuh, Kutoarjo, Bayan, Banyuurip, Bruno, Pituruh, Kemiri, Purworejo, Kaligesing, Bener, Loano, dan Gebang. “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus. Bahkan, kondisi kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering dibanding normal, seiring potensi pengaruh El Nino yang bertahan hingga awal 2027,” ujar Yuniarto.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purworejo, Wasit Diono menegaskan pihaknya telah menyiapkan strategi mitigasi sejak dini. Sepanjang musim kemarau, BPBD menargetkan kapasitas penyediaan air bersih mencapai sekitar 7 juta liter atau setara 218 hingga 875 tangki.
“Empat armada mobil tangki kami siagakan dan dapat dioperasikan kapan saja sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Wasit. Penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan permohonan masyarakat melalui pemerintah desa dan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD di lapangan.
"Pola penanganan disebut semakin responsif. Desa cukup melaporkan kondisi kekurangan air, tanpa prosedur berbelit," terangnya. Selain krisis air bersih, musim kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Wilayah yang selama ini rawan kekeringan di Purworejo antara lain Bagelen, Kaligesing, Gebang, dan Bruno. Wasit menyebut jumlah desa terdampak kini cenderung berkurang dibanding beberapa tahun lalu, seiring pembangunan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Namun sejumlah desa dengan keterbatasan sumber air alami masih membutuhkan bantuan saat kemarau berkepanjangan. “Kita tidak bisa menolak atau menghindari datangnya bencana. Yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi dan menyiapkan solusi agar dampaknya dapat diminimalkan,” tegas Wasit.(Ags)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....