Pemprov Jateng Andalkan Vokasi dan Investasi untuk Kurangi Pengangguran
- 03 Jul 2026 16:47 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang- Pemerintah Provinsi(Pemprov) Jawa Tengah mengandalkan penguatan pelatihan vokasi, peningkatan investasi, dan pengembangan kewirausahaan sebagai strategi mengurangi angka pengangguran. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Abdul Azis, mengatakan penyiapan tenaga kerja harus dimulai sejak usia produktif. Menurutnya, kelompok usia 15 hingga 17 tahun perlu dibekali keterampilan sebelum memasuki dunia kerja.
"Kalau kita bicara pengangguran, ukurannya mulai usia 15 tahun. Sementara untuk masuk ke dunia kerja umumnya usia 18 tahun. Jadi yang masih di bawah usia itu harus dipersiapkan melalui pelatihan dan peningkatan keterampilan," ujarnya, Kamis, 2 Juli 2026.
Azis menjelaskan, sektor industri masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Tengah. Tingginya minat investor didukung kemudahan perizinan, ketersediaan kawasan industri, serta pasokan tenaga kerja yang memadai.
Untuk memenuhi kebutuhan dunia industri, Pemprov Jawa Tengah terus memperkuat sistem pelatihan vokasi. Fasilitas yang disiapkan meliputi enam Balai Latihan Kerja (BLK) milik provinsi, 29 BLK kabupaten/kota, sekitar 1.300 Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), serta sekitar 1.500 satuan pendidikan vokasi dan SMK.
Menurut Azis, inovasi yang dikembangkan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang dapat menjadi contoh bagi lembaga pelatihan lainnya. Langkah tersebut diharapkan mampu menghasilkan tenaga kerja yang lebih siap memasuki dunia usaha dan industri.
Meski jumlah pengangguran di Jawa Tengah masih berkisar 940 ribu hingga 970 ribu orang, pemerintah daerah memilih fokus pada upaya penanganannya. Salah satu strategi yang dilakukan ialah memperkuat keterkaitan antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia industri.
Selain itu, Pemprov Jawa Tengah juga mendorong tumbuhnya wirausaha baru melalui pengembangan UMKM. Azis menilai peningkatan jumlah UMKM akan membuka lapangan kerja baru dan ikut mengurangi angka pengangguran.
Pemerintah juga terus mengupayakan pemerataan investasi ke berbagai wilayah. Kawasan industri tidak hanya dikembangkan di Pantai Utara, tetapi juga di wilayah selatan seperti Cilacap dan Kebumen agar pertumbuhan ekonomi lebih merata.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas penduduk yang bekerja di Jawa Tengah masih didominasi lulusan di bawah SMP. Sementara itu, pencari kerja lebih banyak berasal dari lulusan SMA dan SMK, meski sebagian masih berada dalam masa transisi menuju dunia kerja.
Azis berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan institusi pendidikan terus diperkuat. Sinergi tersebut dinilai penting untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia di Jawa Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....