Inovasi Listrik Masuk Sawah Dongkrak Produktivitas Petani di Purworejo

  • 30 Jun 2026 11:41 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Purworejo - Inovasi “Listrik Masuk Sawah” di Desa Laban, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, menjadi solusi atas keterbatasan air irigasi saat kemarau. Program berbasis pompa air listrik submersible atau sumur sibel itu kini membuat petani bisa panen tiga kali dalam setahun.

Kepala Desa Laban, Sugeng Riyadi, mengatakan ide ini muncul dari keluhan warga. Posisi Desa Laban yang jauh dari jalur irigasi utama membuat pengolahan lahan kerap terkendala air saat musim tanam.

“Alhamdulillah pada tahun 2024 kami berhasil membangun 11 titik sumur sible. Pembiayaannya dari Dana Desa, swadaya masyarakat, dan APBN,” kata Sugeng saat dikonfirmasi, Selasa, 30 Juni 2026.

Dari total 68-69 hektare lahan pertanian desa, sekitar 40 hektare sudah menggunakan sumur sibel. Dengan sistem ini, seluruh lahan mampu menjalankan Musim Tanam Tiga(MT3) seratus persen. Bahkan sebagian petani bisa tanam empat kali setahun.

“Sumur sibel lebih praktis dan ekonomis. Biaya operasionalnya jauh lebih rendah dibanding pompa bensin atau LPG,” ujarnya.

Sementara itu, operator sumur sibel Desa Laban, Sutikno, menjelaskan tarif listrik ditetapkan Rp2.500 per kWh. Biaya pengairan awal sekitar Rp50 ribu per petak, sementara pengairan selanjutnya Rp20 ribu-Rp25 ribu.

Petani juga tidak perlu lagi memantau pompa di sawah, cukup pesan melalui WhatsApp ke petugas. “Sebelumnya hanya bisa MT2 karena air terbatas, setelah ada sumur sibel, petani bisa tanam tiga kali setahun,” kata Sutikno.

Kasi Pembangunan Kecamatan Ngombol, Pujiharti, menyebut inovasi ini hasil kolaborasi pemerintah desa, kelompok tani, penyuluh, akademisi, dan media. Efisiensi yang dirasakan petani mencapai sekitar 50 persen dari sisi waktu, tenaga, dan biaya.

"Saat ini sudah 10 desa di Ngombol yang menerapkan sumur sibel. Antara lain Laban, Tanjungrejo, Rasukan, Piyono, Wingko, Sigrumulyo, Keburuan, Ringgit, Mendiro, dan Kaliwungu Lor," katanya.

Penyuluh Pertanian Lapangan Ngombol, Siti Lestari, menambahkan teknologi ini krusial karena Ngombol berada di hilir jaringan irigasi. “Dengan pompa listrik, lahan yang sebelumnya MT2 kini bisa MT3,” katanya.

Menurutnya, penghematan biayanya juga berkali lipat dibanding BBM. "Kami harap indeks pertanaman naik, produksi padi bertambah, dan kesejahteraan petani meningkat,” ucap Siti.(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....