Puskopti Jateng Sebut Kedelai Lokal Lebih Unggul, tapi Sulit Dicari
- 16 Jun 2026 12:38 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah menilai kualitas kedelai lokal tidak kalah dibandingkan kedelai impor, bahkan lebih unggul dari sisi kandungan pati dan hasil olahan tempe. Namun, keterbatasan pasokan membuat pelaku usaha tahu dan tempe masih bergantung pada kedelai impor.
Ketua Puskopti Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro mengatakan, kondisi tersebut menjadi persoalan yang terus dihadapi para pengrajin tahu dan tempe. Menurutnya, kedelai lokal saat ini sangat sulit ditemukan di pasaran dan jumlah produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan industri.
"Kedelai lokal itu jarang sekali. Sulit sekali dicari," kata Sutrisno dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Selasa, 16 Juni 2026.
Ia menyebut, produksi kedelai dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kebutuhan pasar. "Kalau toh ada, hanya mampu 10 persen dari kebutuhan daerah," ujarnya.
Sutrisno menegaskan, kualitas kedelai lokal justru lebih baik untuk bahan baku tahu dan tempe. Menurutnya, kedelai lokal menghasilkan tekstur dan kualitas produk yang lebih baik dibandingkan kedelai impor yang selama ini mendominasi pasar.
"Kedelai lokal itu patinya lebih banyak, untuk tempe itu mengembangnya lebih bagus," tuturnya. Ia bahkan menyebut varietas kedelai lokal, seperti varietas Grobogan, memiliki ukuran biji yang tidak kalah besar dibandingkan kedelai asal Amerika Serikat.
Sutrisno mengatakan, ketergantungan terhadap kedelai impor membuat pengrajin tahu dan tempe rentan terhadap gejolak harga internasional. Saat ini,harga kedelai impor telah mencapai kisaran Rp11.300 hingga Rp11.500 per kilogram, padahal sebelumnya berkisar Rp9.500 hingga Rp10.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha para pengrajin. Menurut Sutrisno, sebagian besar pelaku usaha memilih menaikkan harga jual produk karena mempertahankan ukuran tempe dan tahu dinilai lebih penting demi menjaga kepercayaan konsumen.
Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, Puskopti Jawa Tengah mendorong pemerintah agar lebih serius mengembangkan budidaya kedelai lokal. Sutrisno menilai Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan kedelai secara mandiri apabila mendapat dukungan kebijakan yang tepat.
"Negara kita jelas negara agraris. Mau tidak mau harus menanam kedelai," ucapnya.
Ia berharap pemerintah menyediakan bibit unggul, pupuk, serta pendampingan yang memadai bagi petani agar produksi kedelai lokal dapat terus meningkat. Pemerintah juga perlu hadir untuk menjaga stabilitas harga agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak dan terdorong untuk terus menanam kedelai.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih percaya terhadap kualitas produk dalam negeri. "Produksi kedelai dalam negeri adalah yang terbaik," ujar Sutrisno.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....