Dana dari Pusat Belum Cair, Sejumlah SPPG di Kudus Tutup Operasional Sementara
- 11 Jun 2026 11:08 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus – Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kudus terpaksa menghentikan operasional sementara akibat belum turunnya dana operasional dari pemerintah pusat. Kondisi ini menyebabkan penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah ikut terhenti.
Salah satu SPPG yang menghentikan layanan adalah SPPG Yayasan Denbaguse Muria Raya di Desa Megawon, Kecamatan Jati. SPPG tersebut mulai tidak beroperasi sementara sejak Rabu, 10 Juni 2026 setelah sebelumnya menyampaikan pemberitahuan kepada sekolah-sekolah penerima manfaat MBG.
Kepala SPPG Yayasan Denbaguse Muria Raya, Shahira Mailadista, mengatakan pihaknya belum menerima pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN), meskipun rencana anggaran biaya (RAB) telah diajukan. “Biasanya setelah dana kita kurang dari Rp150 juta, akan di-top up sebesar Rp500 juta, dengan jumlah siswa sebanyak 2.099 anak serta 300 balita dan ibu hamil serta menyusui, khusus di Desa Megawon," ujarnya.
Menurut Shahira, pihaknya belum dapat memastikan kapan operasional SPPG akan kembali berjalan normal. Kepastian tersebut sangat bergantung pada pencairan dana operasional dari pemerintah pusat agar layanan MBG dapat kembali diberikan kepada para penerima manfaat.
SPPG Yayasan Denbaguse Muria Raya selama ini melayani penerima MBG dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai TPA dan TK di Desa Megawon hingga sejumlah RA, MI, MTs, dan MA di Desa Loram Wetan serta Loram Kulon.
Kondisi serupa juga dialami SPPG Rendeng, Kecamatan Kota, yang dikelola Yayasan Nusantara Satu Kudus. SPPG tersebut dijadwalkan menghentikan operasional sementara mulai Kamis, 11 Juni 2026, dengan alasan yang sama, yakni belum cairnya dana operasional dari pusat.
Salah seorang wali murid SD Al Manar, Desa Burikan, Kecamatan Kota, Indah Susanti, mengaku telah menerima informasi penghentian sementara MBG melalui grup WhatsApp orang tua siswa. Meski demikian, ia tidak terlalu mempermasalahkan kondisi tersebut.
"Karena anak saya yang masih duduk di SD, terkadang MBG-nya dibawa pulang. Alasannya menunya tidak cocok, tapi kalau cocok menunya habis dimakan di sekolah," tuturnya. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....