Kedelai Impor Tembus Rp11 Ribu, Perajin Tahu-Tempe di Pekalongan Pangkas Produksi
- 10 Jun 2026 13:12 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Dampak nilai tukar dolar naik bagi pelaku UMKM
RRI.CO.ID, Pekalongan – Lonjakan harga kedelai impor yang kini menembus Rp11.000 per kilogram mulai memukul pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Pekalongan. Kenaikan harga bahan baku tersebut memaksa perajin mengurangi kapasitas produksi demi mempertahankan usaha yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun.
Dampak kenaikan harga kedelai paling terasa di Pasar Tradisional Wiradesa. Sejumlah perajin mengaku pendapatan mereka menurun seiring meningkatnya biaya produksi, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Perajin sekaligus penjual tahu di Pasar Wiradesa, Haryanto, mengatakan, kenaikan harga kedelai impor telah memangkas pendapatannya hingga sekitar 30 persen. Meski tidak mengurangi ukuran tahu yang dijual, jumlah pembeli tetap mengalami penurunan.
"Harga kedelai dulu masih sekitar Rp8.000 per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp11.000 per kilogram. Ini sangat memberatkan usaha kami," ujar Haryanto, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurutnya, lonjakan harga bahan baku membuat biaya produksi semakin tinggi. Akibatnya, ia terpaksa mengurangi produksi tempe dari biasanya mencapai 80 kilogram per hari menjadi sekitar 50 kilogram per hari.
Keluhan serupa disampaikan Istikomah, perajin tahu yang juga berjualan di Pasar Wiradesa. Ia mengaku berada dalam posisi sulit karena kenaikan biaya produksi tidak sebanding dengan kemampuan masyarakat untuk membeli produk dengan harga lebih mahal.
"Kalau harga tahu dinaikkan terlalu tinggi, pembeli bisa berkurang. Jadi kami siasati dengan mengurangi ukuran atau jumlah produksi," katanya.
Sementara itu, perajin tempe di Pekalongan, Khotijah juga merasakan tekanan yang sama. Dalam kondisi normal, ia mampu mengolah sekitar 50 kilogram kedelai per hari.
Sejak harga kedelai naik, kini produksi harus diturunkan menjadi sekitar 35 kilogram per hari untuk menyesuaikan biaya bahan baku yang terus meningkat. "Kami pernah menyiasati dengan mengubah ukuran, tapi banyak pelanggan yang mundur dan tidak jadi membeli, akhirnya kami hanya bertahan sambil menunggu kebijakan pemerintah," ungkapnya.
Ditemui terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Pekalongan, Siti Masruroh, menjelaskan kenaikan harga kedelai impor tidak lepas dari pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta fluktuasi harga komoditas di pasar global. "Kenaikan harga kedelai impor dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga global hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujarnya.
“Dampaknya kini dirasakan langsung oleh pelaku UMKM dan pasar tradisional di daerah. Pemerintah akan terus berupaya mengambil langkah agar kondisi ini tidak berkepanjangan," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....