Ancaman Ekstremisme Bergerak Diam-Diam di Dunia Digital, Anak Jadi Sasaran

  • 01 Jun 2026 11:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ancaman ekstremisme berbasis kekerasan ternyata tak lagi bergerak lewat jalur konvensional. Di era digital, paham radikal mulai menyusup diam-diam melalui media sosial, forum tertutup, bahkan game online yang akrab dimainkan anak-anak dan remaja.

Fakta itu mengemuka dalam kegiatan “Sosialisasi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme melalui Pendekatan Keluarga”. Kegiatan tersebut digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, belum lama ini.

Kepala DP3A Kota Semarang Eko Krisnarto, mengatakan perempuan dan anak masih menjadi kelompok rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan. Termasuk, kekerasan yang mengarah pada ekstremisme.

Ia menegaskan Pemerintah Kota Semarang telah menerbitkan Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 48 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme. “Peraturan ini bukan sekadar dokumen hukum, melainkan kompas moral dan sosial untuk menjaga keamanan, kedamaian, dan masa depan generasi penerus,” ucapnya.

Menurutnya, keluarga harus menjadi ruang aman pertama bagi anak untuk tumbuh dengan nilai toleransi dan cinta kebangsaan. “Kita semua hadir bukan hanya sebagai peserta sosialisasi, tetapi sebagai penjaga masa depan anak-anak kita dan masa depan Kota Semarang,” katanya.

DP3A juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak, mulai dari menjadi tertutup, mudah marah, anti terhadap kelompok lain, hingga aktif mengikuti grup tertutup yang mengarah pada propaganda radikal. Komunikasi terbuka, pengawasan media sosial, serta penanaman nilai toleransi menjadi garis pertahanan pertama dalam keluarga.

Sementara, Wakasat Intelkam Polrestabes Semarang, Kompol Slamet Purnomo mengungkapkan adanya tiga pelajar SMP dan SMK di Kota Semarang yang sempat terpapar paham ekstremisme. Mereka disebut terpapar melalui game online.

“Mereka awalnya ditarik masuk ke grup tertentu, lalu mendapat doktrin secara bertahap. Paham ekstremisme sekarang masuk lewat ruang digital seperti game online yang dekat dengan anak-anak,” ungkapnya.

Menurutnya, kelompok ekstrem memanfaatkan kondisi psikologis anak yang rentan. Terutama, mereka yang pernah mengalami kekerasan, memiliki luka emosional, atau menyimpan kebencian terhadap aparat maupun lingkungan sekitar.

Slamet menegaskan, pihak kepolisian melakukan pembinaan agar para pelajar tersebut dapat kembali ke lingkungan keluarga dan tidak lagi terpapar paham radikal. “Anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan atau punya rasa marah dan kecewa lebih mudah dipengaruhi, karena itu pendekatan keluarga sangat penting,” ujarnya.

Fenomena itu sekaligus memperlihatkan bagaimana ancaman ekstremisme kini bergerak secara masif di dunia digital. Dalam materi sosialisasi juga dijelaskan bahwa propaganda radikal menyebar cepat melalui algoritma media sosial, grup percakapan tertutup, hingga platform digital yang sulit diawasi.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Persadani Semarang sekaligus mantan narapidana terorisme, Hadi Masykur, menekankan, keluarga merupakan benteng utama pencegahan ekstremisme. "Orang tua, terutama ayah, jangan hanya sibuk mencari nafkah, tapi juga harus dekat dengan anak agar bisa mendeteksi perubahan perilaku sejak dini,” katanya.

Menurutnya, keluarga memiliki posisi strategis sebagai “benteng utama” karena menjadi lingkungan pertama pembentukan karakter anak. Pendidikan nilai toleransi, pendampingan penggunaan teknologi, hingga literasi digital disebut sebagai langkah penting untuk mencegah paparan radikalisme sejak dini.

Hadi mengingatkan, komunikasi yang hangat di rumah menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian atau pengakuan dari kelompok luar yang berpotensi membawa pengaruh negatif. "Anak yang merasa dicintai keluarganya biasanya tidak mudah mencari pengakuan di kelompok lain,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....