Puncak Waisak, Umat Buddha Diajak Miliki Empati yang Tinggi

  • 31 Mei 2026 12:25 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • prosesi kirab Waisak
  • Candi Mendut
  • Majelis Agama Buddha Mahayana  Indonesia Tanah Suci

RRI.CO.ID, Kabupaten Magelang - Bhante Duta Virya Stavira dari Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia Tanah Suci mengajak umat Buddha untuk mempunyai rasa empati yang tinggi. Seperti saat sang Buddha Gautama mendapatkan pencerahan dasar yang pertama, yakni melihat orang sakit tua dan mati.

“Waisak sendiri memperingati tiuga peristiwa besar dari kehidupan Sang Buddha,yakni lahir, Buddha mencapau penerangan yang sempurna dan parinibbana (pencerahan yang sempurna, setelah Sang Buddha wafat,” kata Bhante Duta Virya Stavira dari Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia Tanah Suci, di Candi Mendut, Minggu 31 Mei 2026.

Duta Virya mengatakan, rasa empati dan cinta kasih yang sangat tinggi harus dimiliki oleh manusia, karena manusia mengalami proses penderitaan, sehingga dia mencari obat. Ia juga mengajak sleuruh umat Buddha untuk menjadi pintu masuk cinta kasih untuk hidup lebih baik, hidup berkomunikasi dengan orang lain, dan pintu menuju pencerahan

Jadi, marilah ini adalah pintu gerbang kita, cintakasih itu, untuk hidup lebih baik, hidup berkomunikasi dengan orang lain, Dan menjadi pintu menuju pencerahan.

“Marilah menjad pintu gerbang cinta kasih untuk hidup lebih baik, hidup berkomunikasi dengan orang lain, Pintu kekuatan manusia yang paling hakiki yang bisa membawa dan menyelamatkan diri kita sendiri adalah cinta kasih,” ujarnya.

Ia menjelasakan, prosesi kirab umat Buddha sepanjang 3 kilometer dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur merupakan lambang dari perjalanan hidup yang harus dilalui. Pada prosesi kirab Waisak tersebut, seluruh api Dharma dan air suci Waisak yang disemayamkan di Candi Mendut turut dibawa. Air dan api tersebut kemudian digunakan untuk sarana puja bakti detik-detik Waisak di pelataran Candi Borobudur.

Pada prosesi kirab Waisak yang diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru tanah air tersebut, menjadi daya Tarik warga Kabupaten Magelang untuk menontonnya. Salah satunya Siti warga Desa Menayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang mengaku sengaja menonton kirab Waisak untuk memberikan hiburan bagi anaknya yang masih berusia 10 tahun.

“Saya sengaja menonton kirab Waisak, karena anak saya yang baru berusia 10 tahun. Anak saya tersebut penasaran karena belum pernah menonton kirab Wasiak,”kata Siti.

Setelah berjalan kaki sejauh 3 kilomete dari Candi Mendut, esampainya di pelataran Zona I Candi Borobudur umat langsung melanjutkan doa-doa dan membaca paritta. Adapun detik-detik Waisak 2026,jatuh pada pukul 15, 44 menit lebih 45 detik. (wied)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....