Samuel Wattimena: Busana Denok Kenang Semestinya Cerminkan Karakter Semarang

  • 25 Mei 2026 10:44 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Penampilan para finalis Grand Final Denok dan Kenang Kota Semarang 2026 mendapat sorotan dari anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena. Berlatar belakang dunia fesyen, Samuel menilai busana Denok dan Kenang belum mampu merepresentasikan identitas budaya Kota Semarang.

Sorotan itu disampaikan Samuel usai menjadi juri kehormatan Grand Final 30 Finalis Denok dan Kenang Semarang 2026 di Balai Kota Semarang, Minggu 24 Mei 2026 malam. Bersama Putri Indonesia Jawa Tengah Gitta Putri Mardanti, ia mengapresiasi proses penjurian yang dinilai melibatkan figur kompeten dan kritis dari berbagai bidang.

Namun, menurut Samuel, aspek penampilan justru menjadi catatan penting dalam ajang pencarian duta wisata tersebut. Samuel mencontohkan pengunaan legging hitam dengan kain yang disampirkan hingga sebatas lutut yang dipadukan kebaya modern misalnya, dinilai kurang cocok.

"Kalau mau bikin Denok dan Kenang, tampilan pakaian yang dipakai harus representasi Kota Semarang. Kebudayaan ini bukan hanya seni, tolong diingat gitu ya, etika, gaya hidup, lifestyle dari orang Semarang gaya apa sih?" ujarnya.

Alasan panitia yang menyebut model pakaian yang mereka pilih itu dibuat agar lebih praktis demi memudahkan koreografi tarian pun menurutnya kurang tepat. Pemakaian kain, sarung, gaya rambut, hingga aksesori para finalis juga dinilai belum menunjukkan ciri khas lokal secara kuat.

"Alasannya untuk memudahkan koreografi tarian. Ah, itu enggak bisa saya terima," tuturnya.

Menurut Samuel, pakaian merupakan medium komunikasi budaya yang paling mudah dikenali publik. Oleh karenanya, ia menyayangkan tidak adanya peserta yang menjelaskan filosofi pakaian, gaya rambut, maupun perhiasan yang mereka kenakan.

Padahal, aspek budaya yang melekat dalam keseharian itu, dinilai justru penting diangkat sebagai bagian dari storytelling wisata daerah. Apalagi, para finalis dinilai sudah cukup aktif berbicara mengenai pariwisata, bangunan bersejarah, dan transportasi di Kota Semarang dalam kesempatan tersebut.

Lebih lanjut, Samuel menilai penyelenggaraan Denok Kenang pada tahun-tahun sebelumnya justru lebih kuat menampilkan karakter budaya Semarang. Ia menyebut pembinaan kala itu lebih memperhatikan tata busana, penggunaan kain khas Semarang, konde, gaya rambut, hingga perhiasan yang sesuai.

Oleh karena itu, Denok dan Kenang diharapkan tidak hanya piawai berbicara tentang wisata, tetapi juga menjadi representasi budaya, etika, dan gaya hidup masyarakat Semarang. “Kan kita sedang mencari contoh anak muda mengenai identity Kota Semarang,” kata Samuel.

Sementara, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyebut tema Denok Kenang kali ini yakni Menyinari Budaya Menguatkan Pariwisata. Dua aspek ini menurutnya merupakan energi kota Semarang yang menjadikan ekonomi kota ini tumbuh pesat.

"Budaya menjaga Kota Lama, budaya melestarikan dan menetapkan berbagai macam makanan yang enak di Kota Semarang, budaya menerima para tamu, dan budaya untuk tetap dalam harmoni damai dan sangat toleran. Itulah yang menjadi nafas Kota Semarang sehari -hari," ujarnya.

Ia menegaskan, budaya menghasilkan ekonomi dan berkaitan dengan pemberdayaan. "Malam inj kita tidak hanya memilih siapa yang paling rupawan dam fasih berbicara atau memiliki kepercayaan yang tinggi, malam ini kita memilih wajah masa depan Kota Semarang," ucapnya.

Selain Samuel dan Gitta, dewan juri Grand Final Denok Kenang Semarang 2026 diisi Andreas Rocky Jatiantono, Hendi Pratama, Bintang Hanggoro Putra, Eko Suseno, Sany Tyas Ageng Setiawan, Gunawan Permadi, dan Naiza Rosalia. Pada ajang tersebut, Bima Surya Wardana terpilih sebagai Juara 1 Kenang Semarang 2026, sedangkan Farah Azra Bramantya menjadi Juara 1 Denok Semarang 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....