Dongkrak Ekonomi Warga, Desa Duren Kembangkan Peternakan Kambing Boer Australia

  • 15 Mei 2026 08:34 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang – Kambing Boer menjadi andalan baru Desa Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, dalam upaya mendongkrak perekonomian warga. Melalui pengembangan peternakan yang dikelola BUMDes Sido Maju, pemerintah desa optimistis usaha penggemukan kambing pedaging unggulan itu dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah hamparan hijau Desa Duren, suara kambing terdengar bersahutan dari kandang milik BUMDes Sido Maju. Belasan kambing Boer asal Australia tampak dipelihara secara intensif dengan memanfaatkan melimpahnya pakan hijauan di sekitar desa.

Pemerintah Desa Duren bersama BUMDes Sido Maju serius mengembangkan usaha penggemukan kambing Boer melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Jenis kambing pedaging ini dipilih karena memiliki daya tahan penyakit yang baik, pertumbuhan cepat, dan nilai jual yang cukup menjanjikan.

Kepala Desa Duren, Wahyudi mengatakan, potensi lahan pertanian yang luas menjadi modal utama pengembangan peternakan di wilayahnya. Selain pakan mudah diperoleh, mayoritas masyarakat juga telah akrab dengan aktivitas beternak.

“Untuk ternak kambing masih terbuka. Pakan mudah dicari dan harga jualnya cukup menjanjikan. Mayoritas warga petani sehingga beternak bisa dilakukan bersama,” ujarnya, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut Wahyudi, pola penggemukan intensif diterapkan agar hasil panen lebih optimal. Dalam waktu sekitar empat bulan, kambing Boer sudah dapat dipasarkan kepada mitra pembeli di wilayah Klaten.

“Dalam waktu sekitar empat bulan, kambing sudah bisa dipanen dan dijual ke mitra di wilayah Klaten. Harga dagingnya pun cukup tinggi, mencapai sekitar Rp75 ribu per kilogram,” ucapnya.

Ketua BUMDes Sido Maju, Choirul Fuad menyebut kambing Boer memiliki sejumlah keunggulan dibanding kambing lokal. Selain pertumbuhannya lebih cepat, kambing jenis ini memiliki tekstur daging yang lebih padat dan berbobot.

“Meski secara fisik terlihat sama besar, kambing Boer lebih berat saat ditimbang. Tekstur dagingnya berbeda,” kata Fuad.

Ke depan, BUMDes berharap usaha penggemukan kambing Boer dapat terus berkembang hingga panen dilakukan setiap dua bulan sekali. Pengembangan kandang serupa juga mulai dirintis di dusun lain agar manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat.

Bagi warga Desa Duren, kandang kambing Boer tidak sekadar tempat beternak. Akan tetapi, simbol semangat membangun desa secara mandiri melalui pemanfaatan potensi lokal dan penguatan ketahanan pangan.

Camat Tengaran, Sri Sulistyowati menilai langkah BUMDes Sido Maju menjadi terobosan baru di wilayahnya. Menurutnya, usaha ternak yang selama ini umumnya berupa pengaduhan kambing kini berkembang menjadi penggemukan ternak yang lebih produktif.

“Dari sebuah desa di Tengaran, kambing Boer hadir membawa cerita tentang kerja sama, peluang usaha, dan harapan. Harapannya, kesejahteraan warga bisa tumbuh secepat kambing-kambing yang mereka pelihara,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....