Warga Jati Kulon Kudus Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Pakan Entok
- 14 Mei 2026 20:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus – Upaya warga RW 3 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus mengolah sampah rumah tangga menjadi pakan ternak entok membuahkan hasil. Inovasi pemanfaatan sampah dapur tersebut berhasil membawa lingkungan mereka masuk nominasi penilaian pengelolaan lingkungan yang digelar Djarum Foundation.
Program tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga. Sampah organik berupa sisa makanan dan limbah dapur yang biasanya dibuang kini dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ternak entok milik warga setempat.
Owner peternakan entok di RW 3 Jati Kulon, Ony menjelaskan, pengelolaan sampah di lingkungannya dilakukan melalui beberapa metode. Untuk sampah anorganik seperti botol plastik, warga mengelolanya melalui bank sampah, sementara sampah organik diolah menjadi eco enzyme dan pakan ternak.
“Sampah dapur dan sisa makanan warga dikumpulkan lalu dimanfaatkan untuk pakan entok. Jadi limbah rumah tangga tidak langsung dibuang begitu saja,” ujarnya.
Menurut Ony, inovasi tersebut menjadi salah satu materi yang diikutsertakan dalam penilaian Djarum Foundation terkait pengelolaan sampah rumah tangga. Warga RW 3 diminta membuat video yang menampilkan berbagai program pengolahan sampah di lingkungan mereka.
Dalam video tersebut, ditampilkan tiga program utama, yakni bank sampah, pengolahan eco enzyme, serta pemanfaatan sampah organik untuk pakan ternak entok. Program itu kemudian berhasil lolos hingga tahap nominasi.
Tim penilai dari Djarum Foundation bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus, pihak kecamatan, dan instansi terkait juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Saat ini, RW 3 Jati Kulon tengah memasuki tahap penilaian kedua.
“Informasinya nanti puncak acara tanggal 8 Juni di Oasis Djarum Kudus. Kalau menang akan diundang ke sana,” katanya.
Selain memanfaatkan sampah organik sebagai pakan entok, warga sebelumnya juga mengembangkan budidaya maggot untuk membantu mengurai limbah makanan. Namun, saat musim hujan perkembangan maggot dinilai kurang optimal sehingga pengolahan sampah lebih difokuskan melalui fermentasi sebelum diberikan ke ternak.
Warga juga memiliki cara unik untuk mengurangi gangguan tikus di sekitar kandang, yakni memanfaatkan ampas kopi dari sejumlah kedai kopi di Kudus. Ampas tersebut disebar di area peternakan karena aromanya dinilai cukup efektif membantu mengusir tikus.
“Sisa kopi dari coffee shop kami ambil untuk membantu mengurangi tikus. Aromanya masih kuat jadi cukup membantu,” ujar Ony.
Saat ini, jumlah entok yang dipelihara di kandang warga mencapai sekitar 70 ekor. Pemberian pakan dilakukan menyesuaikan jumlah sampah organik yang terkumpul setiap harinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....