Teatrikal Satanik SKNC Viral, Plt Bupati Pekalongan Minta Evaluasi

  • 15 Sep 2026 14:55 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi mengakui adanya peserta karnaval yang tampil dalam adegan yang kemudian ramai disebut sebagai ritual satanik.
  • Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang semula digelar sebagai pesta kreativitas warga justru berujung polemik.

RRI.CO.ID, Pekalongan – Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyoroti penampilan teatrikal bernuansa satanik dalam Simbang Kulon Night Carnival(SKNC) 2026 yang viral di media sosial. Penampilan tersebut dinilai menimbulkan kegaduhan dan multitafsir di tengah masyarakat sehingga perlu mendapat perhatian dan evaluasi.

Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan, Sukirman, mengatakan kreativitas warga dalam menggelar festival secara mandiri merupakan hal positif. Namun, penggunaan simbol dan adegan yang dapat ditafsirkan sebagai pemujaan terhadap setan dinilai perlu dievaluasi secara serius.

“Memang ini harus menjadi perhatian karena itu sudah menimbulkan kegaduhan, menimbulkan multitafsir, tidak lagi menjadi bagian sebuah ekspresi maupun teatrikal,” kata Sukirman, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Sukirman, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kreativitas seni. Penampilan itu juga berpotensi memengaruhi pemahaman masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda yang menyaksikan secara langsung maupun melalui potongan video yang beredar di media sosial.

Sukirman menegaskan ekspresi seni perlu mempertimbangkan nilai agama, Pancasila, budaya lokal, serta dampak psikologis dan edukatif terhadap anak-anak. “Ini harus diantisipasi agar generasi muda di bawahnya memahami bahwa pemujaan-pemujaan setan begitu memang itu dilarang oleh agama dan dilarang oleh negara,” ucapnya.

Pemkab Pekalongan akan berkoordinasi dengan panitia Simbang Kulon Night Carnival untuk melakukan evaluasi dan mitigasi. Panitia juga diminta memberikan klarifikasi mengenai maksud dan konsep penampilan yang kemudian menuai kontroversi tersebut.

Sukirman menilai polemik tersebut sebenarnya dapat dihindari karena Kabupaten Pekalongan memiliki banyak potensi lokal yang dapat diangkat sebagai tema festival, mulai dari batik hingga kreativitas anak muda. Ia mengatakan tema horor sekalipun masih dapat dikembangkan dalam sebuah festival sepanjang disajikan secara proporsional dan tidak bertentangan dengan nilai yang hidup di masyarakat.

Sementara, Panitia Simbang Kulon Night Carnival 2026, Ziyad Azizi, mengakui adanya peserta karnaval yang tampil dalam adegan yang kemudian ramai disebut sebagai ritual satanik. “Kami dari panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf atau kekurangan kami,” kata Ziyad.

Meski telah menyampaikan permintaan maaf, panitia mengaku tidak mengetahui secara rinci mengenai penampilan bernuansa satanik tersebut. Baik dari proses, maupun maksud di balik penampilan yang dipersoalkan.(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....