Kadinkes: Warga Kota Semarang Belum Ada yang Terpapar Hantavirus

  • 12 Mei 2026 12:38 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Masyarakat Kota Semarang hingga saat ini belum ada yang terkonfirmasi terpapar Hantavirus. Pernyataan itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M. Abdul Hakam, Senin, 11 Mei 2026.

Hakam mengungkapkan, kendati belum ada temuan, namun langkah pencegahan terus dilakukan. Kasus hantavirus pernah terjadi pada 2023, namun sebanyak 3 persen dari 110 orang yang ter-sampling kini telah sembuh.

“Di 2023 itu, 110 sampel dari manusia. Ada kurang lebih 3 persenan yang positif Hantavirus,” ucapnya.

Adapun, data tahun berikutnya, yakni pada 2024, jumlah sampel manusia yang sama menunjukkan hasil negatif. Sementara, pada 2025, sampling pada tikus justru menunjukkan 30 persen positif bakteri Leptospirosis.

Meski begitu, pada tahun ini, pihaknya menyebut ada kenaikan kasus positif Hantavirus secara signifikan di luar negeri yang perlu diwaspadai. “Alhamdulillah sampai detik ini, belum ada temuan baik itu di 38 rumah sakit ataupun 40 puskesmas yang ada di Kota Semarang,” ujarnya.

Hakam menuturkan, pihaknya memasifkan gerakan Pemberantasan Tikus Permukiman (PTP) ke seluruh lapisan masyarakat Kota Semarang. Langkah ini dilakukan untuk menekan angka Leptospirosis yang makin melonjak pada 2026 berjalan ini.

“Karena kan perantaranya sama-sama dari tikus. Nah, kasus yang Hantavirus-nya ini yang belum kami temukan,” katanya.

Hakam menjelaskan cara penularan Hantavirus mirip dengan Leptospirosis, yakni melalui gigitan atau air kencing tikus. Hanya saja, perbedaannya terletak pada virus dan bakteri. Namun, gejala yang ditimbulkan Bahkan juga menyerupai Covid-19.

“Sama, kalau Lepto, bakteri, kalau Hanta, ini virus, yang dirasakan adalah demam tinggi, badannya sakit semuanya, ngilu. Yang membahayakan virus ini menyerang saluran napas, gagal napas, seperti orang pneumonia atau radang paru," ucapnya.

Menurutnya, hingga saat ini belum tersedia antivirus khusus untuk menangani Hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada peningkatan daya tahan tubuh pasien dan pengurangan gejala klinis yang muncul.

“Karena ini virus, sebenarnya yang paling penting adalah sistem kekebalan tubuh pasien. Antivirus khusus Hantavirus memang belum ada,” katanya.

Pasien yang menjalani perawatan di puskesmas rawat inap maupun rumah sakit akan mendapatkan terapi untuk menurunkan gejala, menjaga kondisi tubuh tetap stabil, serta meningkatkan imunitas. "Kalau imunitasnya tinggi, virusnya pasti akan mati dengan sendirinya,” jelasnya.

Sementara itu, jika infeksi sudah menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan gagal napas, maka pasien akan mendapatkan penanganan intensif. Hal itu termasuk pemberian alat bantu pernapasan hingga perawatan di ruang intensive care unit (ICU).

“Seorang dokter pasti akan tahu gejala orang mau gagal napas melalui pemeriksaan medis, termasuk blood gas analysis atau analisis gas darah. Kalau kondisinya mendekati gagal napas, maka akan dipersiapkan masuk ICU atau ruang perawatan khusus,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....