Tren Jelajah Alam Meningkat, Jateng Cetak Pemandu Gunung Profesional

  • 19 Apr 2026 12:59 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tren jelajah alam yang terus meningkat mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencetak pemandu gunung profesional. Upaya ini sekaligus membuka peluang kerja baru di sektor pariwisata yang kian berkembang.

Program tersebut diwujudkan melalui pelatihan Pemandu Wisata Gunung (PWG) di jalur pendakian Perantunan, Gunung Ungaran, pada 17–18 April 2026. Sebanyak 16 peserta terpilih dari 250 pendaftar menjalani praktik lapangan setelah mendapatkan pembekalan teori di Balai Latihan Kerja (BLK) Jasa Pariwisata.

Staf BLK Jasa dan Pariwisata Jawa Tengah, Hamid Adityawarman mengatakan, pelatihan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pemandu gunung profesional. Sistem pelatihan dilaksanakan secara asrama selama 100 jam dengan materi teori dan praktik.

"Prinsipnya, kegiatan ini bertujuan melatih calon pemandu wisata gunung, agar memiliki kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI),” ujarnya, Minggu 19 April 2026.

Program pelatihan ini juga mendapat dukungan dari Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Kebijakan tersebut selaras dengan arah pembangunan daerah yang menargetkan 2027 sebagai tahun pariwisata dan ekonomi syariah.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini menggandeng Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) untuk memastikan standar nasional terpenuhi. Selain itu, sertifikasi kompetensi dilakukan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Ketua APGI Jawa Tengah, Lazuardi, menilai minat pendakian di wilayahnya sangat tinggi mencapai sekitar 900 ribu orang setiap tahun daru 15 kawasan wisata gunung di Jateng. Namun demikian, jumlah pemandu profesional yang tersedia saat ini masih terbatas, hanya sekitar 160 pemandu, sehingga belum sebanding dengan kebutuhan yang terus meningkat.

Program ini dinilai menjadi terobosan penting dalam pengembangan sektor wisata alam di Jawa Tengah. Keberadaannya diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus keselamatan pendaki.

Keberhasilan program juga terlihat dari lulusan batch pertama tahun 2025 yang telah terserap di berbagai penyelenggara wisata alam. Dari sisi pendapatan, pemandu gunung dapat memperoleh penghasilan antara Rp350 ribu hingga Rp650 ribu per hari.

Mayoritas pengguna jasa pemandu berasal dari kota besar seperti Jakarta yang tertarik dengan pesona gunung di Jawa Tengah. Hal ini semakin memperkuat potensi ekonomi dari sektor wisata berbasis alam.

“Dalam pelatihan ini diajarkan berbagai keterampilan teknis, mulai dari pelayanan tamu, mendirikan kemah, navigasi, pengetahuan keanekaragaman hayati dan budaya, hingga kode etik pemandu wisata,” jelas Lazuardi.

Salah satu peserta, Endang Pratiwi, berharap dapat meningkatkan kapasitas dari porter menjadi pemandu gunung profesional. "Saya berlatar belakang pecinta alam sejak kuliah, dan saat ini bekerja sebagai porter lepas,” ujarnya.

Peserta lainnya, Mufni asal Belik, Pemalang, juga optimistis pelatihan ini akan meningkatkan keterampilannya. Ia bertekad menerapkan ilmu yang didapat untuk melayani pendaki sekaligus berbagi pengalaman di lapangan.

“Harapannya, keterampilan yang saya dapat bisa saya terapkan untuk melayani pendaki, sekaligus berbagi ilmu dan pengalaman,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....