Sistem Zonasi Dinilai Sisakan PR Besar di Kualitas Guru dan Perilaku Siswa
- 11 Apr 2026 20:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Penerapan sistem zonasi dalam pendidikan dinilai masih menyisakan sejumlah tantangan, baik dari sisi kualitas pembelajaran maupun perilaku siswa di sekolah. Kebijakan ini diharapkan mampu memperluas akses pendidikan, namun implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan.
Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikbud Jawa Tengah, Kusno mengungkapkan, kedekatan jarak rumah dengan sekolah justru terkadang membuat sebagian siswa kurang disiplin. Kondisi tersebut berdampak pada proses pembelajaran, bahkan menguras energi guru dalam mengelola kelas.
“Nah, ini yang kadang-kadang membuat para pengelola sekolah itu justru energinya habis untuk mengatasi anak-anak zonasi ini, gitu loh, nah, kami berharap sekali melalui RRI ini, ini bisa didengar oleh seluruh masyarakat nggih. Jadi anak-anak zonasi, orang-orang tua yang ada di di wilayah wilayah zonasi, ini justru harus membuktikan kedisiplinan, dekat kan logikanya tidak terlambat," ucapnya dalam dialog bersama RRI, Kamis 9 April 2026.
Ia menegaskan, sistem zonasi sejatinya bertujuan untuk pemerataan akses pendidikan dan menghapus stigma sekolah favorit. Dengan demikian, seluruh sekolah diharapkan mampu menunjukkan kualitas yang merata.
Tantangan besar bagi guru-guru yang sudah berusia tidak muda atau senior, saat ini sudah beradaptasi dengan teknologi, mereka justru menjadikan mentor untuk yang muda-muda. Ia memberikan apresiasi pada para guru.
"Justru ini saya mulai forum ini memberikan apresiasi pada guru-guru yang senior atau istilahnya kalau sekarang guru sepuh ya, itu untuk menjadi suri taludan untuk adik-adiknya atau untuk guru-guru muda. Khusus guru-guru muda kami juga berharap panjenengan-panjenengan semua harus mampu mengikuti irama kebutuhan jaman," ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Pendidikan Universitas PGRI Semarang, Ngasbun Egar, menilai tantangan pendidikan saat ini tidak hanya pada akses, tetapi juga kualitas pembelajaran dan kesenjangan sosial ekonomi. Ia menyebut, disparitas kompetensi guru serta pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi hafalan menjadi kendala dalam peningkatan mutu pendidikan.
“Nah, tantangan utama yang ketiga adalah kesenjangan sosial ekonomi, ini enggak bisa dibantah lagi. Betapapun jauh-jauh sebelumnya juga ketimpangan kesenjangan sosial ekonomi itu juga sudah kita rasakan sejak dulu gitu kan, di mana latar belakang ekonomi masih sangat mempengaruhi akses ya terhadap pendidikan berkualitas," ujarnya.
Hal itu karena berbagai latar belakang ekonomi anak-anak dengan keluarga-keluarga yang berbeda antara satu dengan yang lain. Oleh karenanya, kesempatan untuk mengikuti pembelajaran juga nanti akan berbeda.
Ia menambahkan, diperlukan langkah strategis seperti pemerataan infrastruktur pendidikan, penguatan kompetensi guru, hingga kebijakan afirmasi yang tepat sasaran. Upaya tersebut dinilai penting agar tujuan sistem zonasi dalam mewujudkan keadilan pendidikan dapat benar-benar tercapai.
Peningkatan pendidikan perlu difokuskan pada pembangunan sekolah di daerah tertinggal dan penyediaan akses internet sebagai kebutuhan dasar. Selain itu, kebijakan afirmasi harus diperkuat, terutama melalui beasiswa dan bantuan pendidikan yang benar-benar berbasis kebutuhan agar tepat sasaran.
Pendidikan inklusi juga perlu ditingkatkan, khususnya dalam kesiapan sarana-prasarana dan tenaga pendidik untuk mendukung siswa disabilitas. Terakhir, kolaborasi dengan dunia usaha dan industri perlu didorong lebih kuat agar berkontribusi dalam memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....