Pemkot Semarang Siapkan 1 Juta Liter Air Hadapi El Nino

  • 09 Apr 2026 21:44 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Menghadapi potensi dampak musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino, langkah antisipatif telah dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Semarang melalui penyediaan cadangan air bersih dalam jumlah besar. Sebanyak 1 juta liter air telah disiapkan untuk didistribusikan kepada warga yang terdampak kekeringan.

Kesiapsiagaan tersebut ditegaskan sebagai bagian dari mitigasi bencana kekeringan di Kota Semarang, yang diperkirakan akan mencapai puncaknya hingga September 2026. Warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dinilai semakin tidak menentu.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyampaikan, dalam upaya penanganan tersebut, kolaborasi lintas instansi akan dilakukan, termasuk dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). “Mudah-mudahan begitu kita mendengar ada kekurangan air, kita bisa siapkan airnya,” ujarnya, Kamis, 9 April 2026.

Perubahan cuaca ekstrem telah mulai dirasakan masyarakat, dengan suhu panas yang meningkat signifikan. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga memasuki puncak musim kemarau. .

“Jadi masyarakat harus aware ya. Walaupun kadang-kadang orang berasumsi ini cuaca tidak menentu, tapi ini sudah jelas bahwa kita harus menjaga,” tutur Agustina.

Kota Semarang memiliki kombinasi wilayah perbukitan, lembah, sungai, hingga pesisir laut. Hal itu disebut turut memperbesar potensi risiko bencana jika tidak diantisipasi secara matang.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, menyampaikan bahwa pola cuaca pada tahun 2026 dinilai lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan suhu yang drastis hingga hujan tiba-tiba disertai angin kencang disebut menjadi fenomena yang perlu diwaspadai.

“Kalau kita bandingkan dengan 2025, 2026 ini relatif fenomenal sekali. Ini cuaca panas, tiba-tiba nanti menjelang siang atau sore hujan deras disertai dengan angin kencang,” ucapnya.

Berdasarkan notifikasi dari BMKG, disebutkan bahwa awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei. Meskipun, hingga April masih berpotensi terjadi hujan dan angin kencang.

Sebagai langkah konkret, BPBD Kota Semarang telah menyiapkan cadangan air bersih sebanyak 1 juta liter yang akan didistribusikan sesuai permintaan warga di wilayah terdampak. “Kapanpun permintaan warga, di manapun nanti akan kita kirim sesuai permintaan warga,” kata Endro.

Fenomena meningkatnya suhu panas terjadi karena posisi matahari yang mendekati garis khatulistiwa serta berkurangnya tutupan awan. Dengan demikian, paparan panas menjadi lebih intens di wilayah Semarang.

Berdasarkan pemetaan kawasan rawan bencana (KRB), wilayah Rowosari disebut masih menjadi prioritas utama dalam penanganan kekeringan. Kondisi geografis yang sulit dijangkau jaringan air bersih menjadi kendala utama.

Disebutkan bahwa upaya pengeboran sumur dalam di wilayah tersebut tidak menghasilkan air bersih, melainkan gas, sehingga distribusi air tangki menjadi solusi utama. “Rowosari masih menjadi prioritas pertama. Kendalanya di sana PDAM belum bisa masuk,” ungkap Endro.

Selain Rowosari, beberapa wilayah lain seperti Wonosari (Ngaliyan) dan sebagian daerah di Gunungpati juga masuk dalam kategori rawan, meskipun sebagian telah mulai terjangkau jaringan pipanisasi PDAM. Upaya mitigasi disebut terus dilakukan guna meminimalkan dampak bencana kekeringan agar tidak berulang dan meluas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....