Isu Pembongkaran Pagar Pasar Johar, Dinas Perdagangan Kota Semarang Angkat Bicara
- 02 Apr 2026 19:55 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Desas-desus pembongkaran pagar di Pasar Johar Semarang ramai diperbincangkan di media sosial. Isu tersebut mencuat seusai berdirinya Toko Roti Gambang di sisi utara kawasan pasar cagar budaya itu.
Dinas Perdagangan Kota Semarang mengklarifikasi isu pembongkaran pagar Pasar Johar. Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Aniceto Magno Da Silva menegaskan tidak ada kebijakan pembongkaran pagar di Pasar Johar.
“Saya tidak tahu kenapa sampai jadi polemik, tidak ada itu pembongkaran pagar. Justru kami melakukan penataan,” katanya, Kamis, 2 April 2026.
Ia menjelaskan, sebelum ada aktivitas baru tersebut, sebagian area Pasar Johar terbengkalai selama bertahun-tahun. Menurutnya, upaya menghidupkan Pasar Johar menjadi tanggung jawab pihaknya, termasuk menghadirkan konsep baru agar kawasan kembali ramai.
Ia mengaku berprinsip Pasar Johar harus hidup dan ramai. Kalau tidak ramai, bantuan pembangunan dari Kementerian juga tidak bisa berjalan.
Moy, sapaannya, memastikan seluruh proses perizinan pendirian Toko Roti Gambang telah melalui prosedur. Hal itu sudah mendapat persetujuan dari para pedagang.
“Kehadiran Roti Gambang ini mengangkat pasar Johar. Siapapun yang mau jualan di Johar, silakan, bukan soal anaknya siapa atau siapapun,” ujarnya.
Moy menyebut yang dilakukan hanya penyesuaian kecil, bukan pembongkaran. Tangga di kawasan Johar yang dinilai tinggi akan dipangkas supaya lebih aman bagi pengunjung.
Ia pun memastikan seluruh penataan telah berkoordinasi dengan pihak cagar budaya. Penataan tidak mengubah fungsi maupun bentuk bangunan utama.
Pemilik usaha Roti Gambang, Aldin Meidito Wibowo memastikan tidak pernah ada rencana pembongkaran pagar sebagaimana yang beredar di media sosial. “Kalau untuk pembongkaran, jujur kami belum pernah tahu, kami juga tidak pernah meminta untuk dibongkar karena menurut saya trafik yang sekarang sudah sangat cukup,” katanya.
Aldin menilai, jika pagar dibongkar justru berpotensi menimbulkan kekacauan di kawasan tersebut. Ia juga menanggapi sorotan publik terkait pemasangan fasilitas di area cagar budaya. Dia memastikan semua dilakukan dengan kehati-hatian dan mengikuti aturan.
“Semua sudah kami lapisi dulu sebelum dipaku. Untuk paku saja tidak boleh sembarangan, apalagi mengiyakan sesuatu yang lebih besar seperti membongkar pagar,” katanya.
Aldin juga meluruskan kabar yang menyebut tokonya dimiliki oleh anak Wali Kota Semarang. Kepemilikan usaha tersebut mayoritas berada di tangannya.
“Saya sebagai marketing sekaligus owner, sebagian besar saham saya yang pegang. Tim saya ada partner yang mengelola produksi,” ucapnya.
Menurutnya, sosok yang dikaitkan sebagai putri wali kota tidak memiliki kepemilikan usaha, tetapi hanya membantu dari sisi informasi perizinan. “Dia hanya membantu karena teman SMA saya. memberi tahu soal perizinan, cara komunikasi dengan cagar budaya, dan sebagainya,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....