Maknai Idulfitri 1447 H, Pemuda Muhammadiyah Tebar Kepedulian dan Silaturahmi

  • 20 Mar 2026 11:41 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pemuda Muhammadiyah menyambut Idulfitri 1447 Hijriah dengan semangat mempererat silaturahmi serta meningkatkan kepedulian sosial masyarakat luas. Momentum Lebaran dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat hubungan antarindividu sekaligus menumbuhkan rasa empati kepada sesama.

Dalam konteks kekinian, generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga nilai kebersamaan di tengah perubahan sosial yang semakin dinamis. Pemuda diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya aktif secara digital, tetapi juga berkontribusi nyata di lingkungan sekitar.

Pemuda Muhammadiyah asal Pekalongan, Qorri Sura Gimnastiar menegaskan, Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum refleksi diri dan memperbaiki hubungan sosial. “Idulfitri adalah momen untuk kembali kepada fitrah, memperbaiki relasi, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama,” ujarnya, Jumat, 20 Maret 2026.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, nilai silaturahmi harus terus dijaga oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas sosial dan keislaman. Tantangan era digital tidak boleh menggerus rasa empati, justru harus dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan dan memperluas jangkauan kepedulian.

Menurut Qorri, Pemuda Muhammadiyah telah melakukan berbagai kegiatan sosial untuk menyambut Lebaran. “Kegiatan ini menjadi bentuk nyata bahwa pemuda tidak hanya berbicara, tetapi juga bergerak dan memberikan manfaat langsung,” jelasnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak menunggu momentum besar dalam berbuat baik, melainkan memulai dari hal kecil di lingkungan sekitar. “Kepedulian itu sederhana, bisa dimulai dari bertanya kabar hingga menjaga hubungan baik dengan orang lain apalagi sekarang ada media sosial,” katanya.

Ke depan, Pemuda Muhammadiyah diharapkan terus menjadi pelopor dalam membangun masyarakat yang harmonis, inklusif, dan penuh kepedulian. Semangat silaturahmi yang terbangun saat Idul Fitri diharapkan tidak hanya bersifat musiman, tetapi menjadi budaya yang terus dijaga sepanjang waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....