Siaran Piala Dunia 2026 Jadi Legacy bagi TVRI, RRI dan Antara
- 20 Feb 2026 15:06 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan pentingnya menjadikan momentum siaran Piala Dunia 2026 sebagai legacy atau warisan strategis bagi Lembaga Penyiaran Publik TVRI dan RRI, serta Lembaga Kantor Berita Nasional(LKBN) Antara.
Hal itu disampaikan Evita dalam kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di TVRI Jawa Tengah, Semarang, Jumat, 20 Februari 2026. Ia mendorong agar TVRI, RRI, dan Antara duduk bersama menyusun pembagian peran yang jelas, menghadirkan konten kreatif turunan, serta memperkuat sinergi on air dan off air.
Kolaborasi tersebut, menurutnya, dapat menjadi fondasi transformasi dan penguatan posisi lembaga penyiaran publik sebagai sumber informasi yang netral dan terpercaya. “Piala Dunia ini harus menjadi legacy, bukan hanya peristiwa siaran sesaat, tetapi meninggalkan dampak jangka panjang bagi penguatan TVRI, RRI dan Antara,” kata Evita.
Ia juga mendorong nota kesepahaman (MoU) kerja sama antara ketiga lembaga segera diwujudkan. Sebab, gelaran Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada Juni mendatang.
“Jangan sampai Piala Dunia ramai di negara lain. Akan tetapi, justru sepi di negara kita karena kurangnya koordinasi dan promosi,” ujarnya.
Ia menekankan, TVRI tidak bisa berjalan sendiri dalam menyiarkan ajang internasional tersebut. Dukungan dari RRI dan Antara dinilai krusial, baik dalam aspek promosi, distribusi konten, maupun penguatan jangkauan siaran.
Evita juga menyoroti terkait blank spot siaran di Jawa Tengah. Kondisi itu dinilai berpotensi membuat masyarakat tidak dapat menikmati siaran secara utuh, mengingat hak siar Piala Dunia yang dimiliki bersifat free to air dan tidak berbasis streaming.
Oleh karena itu, ia mendorong adanya terobosan, termasuk kemungkinan pemanfaatan infrastruktur pemancar RRI untuk mendukung perluasan jangkauan siaran TVRI. Menurutnya, opsi tersebut layak dikaji sebagai solusi konkret agar masyarakat di daerah blank spot tetap bisa menikmati siaran Piala Dunia.
“Kalau kita sudah mendapatkan hak siar, tetapi rakyat tidak bisa menikmati secara utuh, pasti akan muncul komplain. Ini harus kita antisipasi,” ujarnya.
Selain soal teknis siaran, Evita juga menekankan perlunya kreativitas dalam pembiayaan program turunan, termasuk pelaksanaan nonton bareng (nobar) dan kegiatan promosi. Hal ini bisa dilakukan secara kolaboratif dan efisien, bahkan dengan skema zero cost melalui sinergi antarlembaga.
Lebih jauh, Evita menekankan, Piala Dunia tidak semata-mata soal rating atau euforia sesaat. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat brand trust lembaga penyiaran publik di mata masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....