Mengapa Jajanan Tradisional Jarang Menggunakan Tepung Terigu?
- 28 Sep 2026 17:37 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pernah bertanya mengapa banyak jajanan tradisional Indonesia menggunakan tepung beras, ketan, tapioka, atau singkong? Penggunaan bahan tersebut berkaitan dengan ketersediaan pangan lokal yang sudah lama dikenal masyarakat.
Beras, singkong, dan berbagai sumber pangan lokal lebih mudah ditemukan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi berbagai makanan dengan tekstur dan cita rasa yang khas.
Berbeda dengan gandum, beras dan singkong sudah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat Indonesia. Gandum sendiri bukan tanaman asli Indonesia dan mulai diperkenalkan di Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Pada awal abad ke-18, benih gandum didatangkan dari beberapa negara untuk dicoba ditanam di sejumlah wilayah Indonesia. Pengembangan tersebut dilakukan di beberapa daerah, termasuk Cirebon, Jakarta, dan Semarang.
Seiring perkembangan zaman, tepung terigu semakin dikenal dan digunakan dalam berbagai produk makanan. Roti, mi, kue, dan berbagai makanan lainnya kemudian membuat tepung terigu semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Meski begitu, perkembangan tepung terigu tidak membuat jajanan tradisional kehilangan tempat. Tepung beras, ketan, tapioka, dan singkong tetap digunakan karena menghasilkan karakter makanan yang berbeda.
Beberapa bahan pangan tersebut juga secara alami tidak mengandung gluten sehingga menjadi pilihan bagi orang dengan kondisi tertentu. Pada penderita penyakit celiac, konsumsi gluten dapat memicu gangguan pencernaan dan kerusakan pada usus.
Karena itu, jajanan tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan makanan modern. Selain mempertahankan cita rasa dan budaya, bahan pangan lokal membuat makanan tersebut tetap relevan hingga sekarang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....