Era Digital, Generasi Muda Kian Rentan terhadap Kecemasan dan Depresi

  • 22 Jun 2026 15:17 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dinilai membawa tantangan baru bagi kesehatan mental generasi muda. Kemudahan akses informasi dan interaksi di dunia maya membuat anak muda lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, hingga kesulitan menghadapi tekanan hidup.

Pengamat kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip), dr. Ari Udijono, M.Kes mengatakan, ketahanan mental generasi muda saat ini perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, berbagai perubahan sosial dan kemajuan teknologi turut memengaruhi cara anak muda merespons persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

"Ketahanan mental anak-anak muda ini kalau saya lihat kurang tangguh. Jadi gampang sekali terpengaruh, mudah depresi atau mudah cemas," ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Senin, 22 Juni 2026.

Ia menilai, generasi muda yang tumbuh di era digital memiliki akses informasi yang sangat luas. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga dapat memunculkan tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi dan mengelola emosi secara baik.

Menurut dr. Ari, kondisi tersebut terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan. Dibandingkan generasi sebelumnya, sebagian anak muda saat ini dinilai lebih mudah merasa tertekan ketika menghadapi masalah atau tantangan yang sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pendampingan.

"Kalau anak-anak sekarang itu sedikit menghadapi masalah, kadang kemudian menghilang, menarik diri, dan tidak menyelesaikan persoalannya. Ini yang menjadi problem," ujarnya.

Selain tekanan dari lingkungan sosial, kasus perundungan atau bullying juga menjadi faktor yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental remaja. Menurutnya, korban bullying sering kali memendam masalah sendiri hingga akhirnya memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi psikologisnya.

"Kalau dia dibully berkali-kali, akhirnya dia minder, merasa tidak percaya diri. Akhirnya menjadi problem yang berkaitan dengan kesehatan mental," katanya.

Ia menegaskan, kesehatan mental dan kesehatan fisik merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Gangguan pada salah satu aspek akan berdampak pada aspek lainnya sehingga keduanya perlu dijaga secara seimbang sejak usia muda.

"Fisik dan mental itu satu kesatuan utuh, kalau fisik sakit, mental bisa terganggu. Sebaliknya kalau mental terganggu, fisik juga akan ikut terdampak," ucapnya.

Oleh karena itu, ia pun mengajak orang tua untuk lebih aktif membangun komunikasi dan kebersamaan dengan anak. “Jangan hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun kualitas hubungan dalam keluarga," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....