Tak Semua Tekanan Berdampak Buruk, Anak Muda Diajak Ubah Beban Jadi Kekuatan

  • 20 Mei 2026 10:59 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tekanan hidup yang dialami anak muda tidak selalu berdampak buruk bagi perkembangan diri seseorang. Tekanan justru dapat menjadi proses belajar untuk membangun kekuatan mental dan emosional.

Guru Besar Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University(SCU), Prof. Dr. Christin Wibhowo, menilai generasi muda menghadapi tantangan berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, kelelahan anak muda saat ini tidak hanya berasal dari aktivitas fisik.

Pembahasan ini berlangsung dalam dialog di Studio Pro 2 RRI Semarang pada Senin, 18 Mei 2026 sore. Diskusi tersebut mengangkat tema The Art of Resilience atau mengubah tekanan menjadi kekuatan.

Ia mengatakan, banyak anak muda mengalami kelelahan emosional dan mental akibat tekanan kehidupan modern “Mereka capek, tapi bukan berarti lembek,” ujarnya.

Christin menjelaskan, derasnya informasi dan tuntutan sosial membuat generasi muda sulit benar-benar beristirahat. Aktivitas digital juga membuat otak terus bekerja tanpa jeda.

Ia menilai kondisi tersebut memicu overthinking yang berkepanjangan pada banyak anak muda. Overthinking terjadi ketika seseorang terus memikirkan masalah tanpa menemukan solusi.

Menurut Christin, tekanan sebenarnya menjadi bagian penting dalam proses bertumbuh seseorang. Ia mengibaratkan tekanan sebagai zona yang harus dilewati sebelum berkembang.

“Orang tidak mungkin belajar dan bertumbuh tanpa melewati zona tekanan,” katanya. Tekanan dapat menjadi dorongan untuk berkembang jika dihadapi dengan benar.

Ia menjelaskan tekanan terbagi menjadi distress dan eustress yang memiliki dampak berbeda. Distress membuat seseorang terpuruk, sedangkan eustress memicu semangat berkembang.

Selain itu, Christin mengingatkan pentingnya mencari bantuan ketika tekanan mulai terasa berlebihan. Dukungan dari orang lain dinilai penting menjaga kondisi mental tetap sehat.

“Kalau sudah overthinking lebih dari tiga hari, segera cari bantuan,” ujarnya. Menurutnya, Bbantuan dapat dicari melalui keluarga, teman, atau profesional.

Christin juga menyoroti pentingnya resiliensi dalam menghadapi tekanan hidup sehari-hari. Resiliensi dinilai bukan tentang selalu terlihat kuat tanpa masalah.

Ia mengibaratkan resiliensi seperti karet yang tetap lentur ketika ditekan. Semakin mendapat tekanan, seseorang justru dapat semakin berkembang dan bertahan.

Menurutnya, sikap tersebut dinilai penting menghadapi tekanan kehidupan modern. “Resiliensi bukan tentang tidak pernah gagal, tetapi memilih bangkit setelah hancur,” katanya.

Christin berharap generasi muda tidak takut menghadapi tekanan dan tantangan hidup. Setiap tekanan dapat menjadi jalan menuju pertumbuhan diri yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....