IDAI: Kesehatan Mental Anak Investasi Penting untuk Masa Depan Bangsa

  • 22 Jul 2026 08:58 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa kesehatan mental anak dan remaja merupakan investasi penting untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan produktif di masa depan. Namun, kondisi kesehatan mental anak saat ini masih menjadi persoalan serius yang belum mendapat perhatian memadai.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengungkapkan hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun atau sekitar 15,5 juta anak mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, satu dari 20 remaja telah memenuhi kriteria gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku.

"Masih banyak yang menganggap gangguan mental hanya dialami orang dewasa. Padahal anak-anak juga bisa mengalaminya, bahkan sering kali sulit dikenali sehingga diperlukan kepekaan dari orang tua," ujar dr. Piprim dalam seminar media daring yang diselenggarakan Pengurus Pusat IDAI, Selasa 21 Juli 2026.

Menurutnya, pola asuh yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab utama munculnya gangguan mental pada anak. Tekanan berlebihan dari orang tua, terutama terkait tuntutan prestasi akademik yang tidak sesuai dengan kemampuan anak, dapat memicu stres dan berdampak pada kesehatan psikologis mereka.

IDAI mengajak orang tua kembali menerapkan prinsip Asuh, Asih, dan Asah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Rumah diharapkan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan terbuka sehingga anak merasa didengar ketika menghadapi persoalan.

Menambahkan, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, menyebut tekanan dari teman sebaya, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten negatif di internet turut memperburuk kondisi kesehatan mental remaja. Ia mengingatkan agar orang tua tidak menganggap perubahan perilaku remaja sebagai hal yang wajar semata.

Kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai, nafsu makan menurun, merasa tidak berharga, cemas berlebihan, hingga muncul keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas dapat menjadi tanda awal gangguan mental. "Jika perubahan perilaku atau emosi terjadi secara tiba-tiba hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, atau mengurung diri, anak perlu segera mendapatkan penanganan dari tenaga profesional," kata dr. Angga.

Untuk mendukung deteksi dini, IDAI merekomendasikan penggunaan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) sebagai alat skrining kondisi psikososial anak usia 3–18 tahun. Selain itu, tenaga kesehatan juga didorong menggunakan pendekatan HEEADSSS guna menggali kondisi psikososial remaja secara menyeluruh.

IDAI juga mengimbau orang tua membangun komunikasi yang hangat tanpa menghakimi, mendorong anak aktif berolahraga, mengembangkan hobi, mengikuti kegiatan positif, serta membatasi penggunaan media sosial. Menurut IDAI, perhatian terhadap kesehatan mental anak tidak hanya bertujuan mencegah gangguan psikologis sejak dini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak sumber daya manusia yang sehat, tangguh, dan berkualitas.

"Dengan dukungan keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, anak-anak Indonesia diharapkan dapat tumbuh optimal. Menjadi generasi penerus yang mampu membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik," ucap dr. Angga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....