Bukan Malas, Ini Tanda Burnout pada Anak Muda
- 14 Apr 2026 18:32 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Fenomena kelelahan mental atau burnout semakin banyak dialami kalangan remaja hingga mahasiswa di tengah padatnya aktivitas harian. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai rasa malas, padahal burnout merupakan kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat tekanan berkepanjangan.
Juara 2 Duta Genre Kota Semarang 2025, Harlan A Ganur menyebut, anyak anak muda belum mampu membedakan antara malas dan burnout. Menurutnya, stigma negatif yang muncul justru membuat individu semakin tertekan dan cenderung menyalahkan diri sendiri.
Ia menjelaskan, burnout biasanya ditandai dengan hilangnya motivasi, mudah lelah, serta menurunnya produktivitas meski sudah berusaha maksimal. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tuntutan akademik, kegiatan organisasi, hingga tekanan dari lingkungan sosial.
“Seringkali kita terlalu keras pada diri sendiri, padahal tubuh dan pikiran kita juga punya batas,” ujar Harlan dalam program siaran Sore Ceria PRO2 FM RRI Semarang, Selasa, 14 April 2026. Ia menambahkan, penting bagi setiap individu untuk lebih peka terhadap kondisi diri sebelum burnout semakin parah.
Harlan menekankan, memahami diri sendiri merupakan langkah awal untuk mengatasi burnout tanpa harus menghakimi diri. Ia menyarankan agar anak muda mulai memberi ruang untuk istirahat dan tidak memaksakan diri untuk selalu produktif.
Selain itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat menjadi kunci utama dalam menghindari kelelahan berlebihan. Self-care sederhana seperti tidur cukup, mengurangi tekanan, hindari media sosial serta melakukan hal yang disukai dapat membantu memulihkan energi.
Ia juga mengingatkan, produktivitas tidak selalu diukur dari seberapa banyak aktivitas yang dilakukan. Menurutnya, kesehatan mental yang terjaga justru akan membuat seseorang lebih optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Melalui pemahaman yang tepat tentang burnout, Harlan berharap masyarakat, khususnya anak muda, bisa lebih bijak dalam menyikapi kelelahan yang dirasakan. Dengan begitu, mereka tidak lagi terjebak dalam stigma “malas”, melainkan mampu memahami bahwa istirahat juga merupakan bagian penting dari proses berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....