Paparan Polusi Udara Picu Infeksi Saluran Pernapasan Berulang pada Anak
- 09 Jul 2026 10:49 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Jakarta – Paparan polusi udara menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak karena dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan berulang. Hal itu disampaikan Dokter Subspesialis Respirologi Anak, dr. Cynthia Centauri, dalam seminar media daring bertajuk Dampak Polusi Udara pada Anak, Selasa, 7 Juli 2026.
Dalam paparannya, Cynthia menjelaskan bahwa anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap polusi udara. Menurutnya, polusi udara juga dapat mengganggu pertumbuhan paru, memicu penyakit kronis, bahkan berdampak pada berbagai organ tubuh sejak anak masih berada di dalam kandungan.
Dibandingkan orang dewasa, anak menghirup udara dua hingga tiga kali lebih banyak karena frekuensi napasnya lebih cepat, sementara saluran napasnya lebih kecil dan paru-parunya masih berkembang hingga usia dewasa muda. "Kerusakan paru pada anak dapat menetap hingga dewasa. Karena itu, paparan polusi udara pada masa anak tidak boleh dianggap sepele," ujarnya, Selasa 7 Juli 2026.
Menurut Cynthia, sumber polusi yang dihadapi anak berasal dari lingkungan luar maupun dalam rumah. Di luar ruangan, polusi terutama berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, kebakaran hutan dan lahan, serta pembakaran sampah.
Sementara di dalam rumah, paparan dapat berasal dari asap rokok dan vape, proses renovasi rumah yang menghasilkan debu dan senyawa kimia dari cat maupun lem, asap memasak, hingga jamur akibat rumah yang lembap. Ia mencontohkan kasus seorang anak berusia tiga tahun yang dirujuk ke klinik respirologi dengan riwayat bronkopneumonia dan batuk berulang selama lima bulan.
Setelah ditelusuri, anak tersebut baru pindah ke rumah yang berada di dekat jalan tol, tinggal di lingkungan yang masih banyak renovasi bangunan. Bahkan juga sering terpapar asap pembakaran sampah dari tetangga, serta memiliki ayah yang mulai menggunakan rokok elektronik atau vape.
Menurut Cynthia, kombinasi berbagai sumber polusi tersebut menjadi beban paparan yang akhirnya memicu infeksi saluran pernapasan berulang pada anak. Ia menjelaskan, polusi udara mengandung berbagai zat berbahaya.
“Seperti nitrogen dioksida, sulfur dioksida, karbon monoksida, ozon permukaan, senyawa organik volatil (VOC), hingga partikel halus atau particulate matter (PM2,5). Partikel yang berukuran sangat kecil mampu masuk hingga ke saluran napas terdalam dan memicu peradangan,” ujarnya.
Akibatnya, anak lebih mudah mengalami batuk berkepanjangan, bronkitis, pneumonia, asma kambuh, infeksi saluran pernapasan berulang, hingga penurunan fungsi paru. Dampaknya bahkan tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi jantung, pembuluh darah, sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
Paparan polusi juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui air, tanah, maupun makanan yang telah terkontaminasi zat pencemar. Cynthia juga mengingatkan bahwa asap rokok maupun vape sama-sama berbahaya bagi anak.
Selain perokok aktif dan perokok pasif, kini dikenal pula istilah third-hand smoke, yaitu residu partikel rokok atau vape yang menempel pada pakaian, dinding, sofa, hingga perabot rumah. Partikel tersebut tetap dapat terhirup anak meski tidak berada di dekat orang yang sedang merokok.
"Baik rokok maupun vape sama-sama menyebabkan iritasi saluran napas, meningkatkan produksi lendir, merusak sel saluran pernapasan, serta meningkatkan risiko infeksi. Vape bukan berarti lebih aman. efek jangka panjangnya memang masih terus diteliti, tetapi dampak buruk terhadap saluran napas sudah terbukti," katanya.
Selain menyebabkan gangguan pernapasan, paparan polusi udara juga dapat berdampak sejak masa kehamilan. Menurut Cynthia, ibu hamil yang terpapar polusi berisiko melahirkan bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, hingga gangguan perkembangan paru pada anak.
Penanganan Anak yang Terpapar Polusi
Apabila anak mulai mengalami batuk berulang, sesak napas, mengi, atau infeksi saluran pernapasan yang sering kambuh, Cynthia mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan agar penyebabnya dapat dievaluasi, termasuk kemungkinan adanya paparan polusi udara yang berlangsung terus-menerus.
Penanganan tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga menghilangkan sumber paparan. Orang tua perlu memastikan lingkungan rumah bebas asap rokok, menghindari anak berada di lokasi renovasi bangunan, serta meminimalkan paparan asap pembakaran sampah maupun polusi lalu lintas.
Temuan Penelitian
Cynthia juga memaparkan hasil penelitiannya pada 2024 terhadap anak-anak sekolah di Jakarta yang berada di wilayah dengan tingkat polusi tinggi. Hasilnya menunjukkan 13,3 persen anak yang tampak sehat ternyata sudah mengalami penurunan fungsi paru, meskipun tidak menunjukkan keluhan sesak maupun gangguan aktivitas.
Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara tingginya kadar polutan PM2,5 dengan penurunan fungsi paru berdasarkan pemeriksaan spirometri. Semakin tinggi paparan PM2,5, semakin besar penurunan fungsi paru yang dialami anak.
"Artinya, gangguan fungsi paru dapat terjadi bahkan sebelum anak menunjukkan gejala. Karena itu, perlindungan terhadap anak dari paparan polusi udara harus menjadi prioritas bersama," ujar Cynthia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....