Prank April Mop Berpotensi Berdampak pada Kesehatan Mental, Ini Batasannya
- 01 Apr 2026 19:33 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Tradisi prank saat April Mop tidak selalu berdampak positif. Jika dilakukan tanpa mempertimbangkan batasan, tindakan tersebut berpotensi memicu gangguan emosional hingga berdampak pada kesehatan mental.
Hal ini diungkapkan oleh Ajeng Octavia Insani Harits, S.Psi., M.Psi, dalam wawancara Pro 2 RRI, Rabu 1 April 2026. Menurut Ajeng, prank dapat dikategorikan sehat apabila kedua belah pihak sama-sama merasa terhibur.
Sebaliknya, jika hanya satu pihak yang menikmati, maka tindakan tersebut berpotensi menjadi bentuk intimidasi. Ia menyebutkan sejumlah indikator prank yang telah melampaui batas, di antaranya munculnya ketakutan berlebihan, tangisan, serangan panik, serta pelanggaran privasi yang berujung pada penyebaran di media sosial.
Perubahan sikap korban setelah kejadian juga menjadi tanda penting yang perlu diperhatikan. Ajeng juga menegaskan, prank dapat memicu dampak psikologis seperti kecemasan.
Lebih lanjut, prank juga dapat mengakibatkan menurunnya rasa percaya terhadap orang lain. Jika kondisi ini terjadi berulang, maka berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Dalam konteks media sosial, fenomena prank dinilai semakin kompleks, terutama di kalangan remaja. Konten prank yang dikemas secara ekstrem demi meningkatkan keterlibatan (engagement) berisiko menormalisasi perilaku negatif, termasuk perundungan.
“Remaja perlu memiliki kesadaran akan batasan dalam bermedia sosial. Tidak semua konten layak ditiru, terutama yang berpotensi merugikan orang lain,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam merayakan April Mop. Ajeng menekankan pentingnya mengenali kondisi emosional orang lain, memahami situasi, serta memastikan bahwa candaan yang dilakukan tidak menimbulkan dampak negatif. (Aritsu)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....