Hindari Cinta Toxic, Pentingnya Anak Muda Pahami Hubungan Sehat
- 13 Apr 2026 09:50 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Hubungan percintaan yang tidak sehat berpotensi merusak kesehatan mental dan masa depan anak muda. Pemahaman tentang healthy relationship menjadi penting di tengah tren hubungan instan.
Fenomena toxic relationship kini banyak dialami generasi muda, terutama mahasiswa. Kurangnya pemahaman membuat banyak orang tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.
Nadya dari UKM Pilus Universitas Semarang(USM) menjelaskan pentingnya memahami konsep hubungan sehat sejak awal. Ia menyebut hubungan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Pembahasan ini berlangsung dalam dialog di Studio Pro 2 RRI Semarang pada Kamis, 9 April 2026 sore. Diskusi tersebut mengangkat tema Love or Trap terkait hubungan toxic.
Ia menekankan pentingnya kesadaran diri dalam menjalin hubungan. “Kalau hubungan bikin kita semakin tidak percaya diri, berarti itu sudah tidak sehat,” ujarnya.
Zahra menambahkan tanda hubungan tidak sehat sering kali tidak disadari sejak awal. Perhatian berlebihan dapat berubah menjadi sikap posesif dan membatasi kebebasan.
Ia menyebut perasaan tidak cukup dan ketergantungan berlebihan menjadi indikator hubungan tidak sehat. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang.
Menurut Nadya, dampak hubungan tidak sehat dapat memicu overthinking hingga gangguan mental. Bahkan, dalam kasus tertentu, hal itu dapat menyebabkan depresi dan kecemasan berlebih.
Ia menjelaskan banyak anak muda cenderung menutup diri saat mengalami masalah hubungan. Kondisi ini membuat permasalahan semakin sulit diselesaikan tanpa bantuan.
Zahra menyarankan untuk mencari aktivitas positif sebagai langkah keluar dari hubungan toxic. Mengembangkan diri dan menjaga lingkungan pertemanan menjadi solusi awal.
Ia menekankan pentingnya pemulihan setelah keluar dari hubungan. “Biasanya anak muda langsung cut off, tapi tetap harus diiringi proses healing,” katanya.
Selain itu, mereka mendorong pentingnya berbagi cerita dengan teman atau profesional. Dukungan sosial dinilai membantu seseorang keluar dari kondisi tidak sehat.
UKM Pilus USM juga akan menghadirkan program Peer Counselor sebagai ruang berbagi. Program ini bertujuan membantu mahasiswa memahami dan menghadapi masalah hubungan.
Kegiatan tersebut akan digelar di Aula Prof Ir Joetata Hardihardadja, Gedung 5 lantai 6 pada Jumat, 17 April 2026. Peserta akan mendapatkan pengalaman praktik konseling secara langsung.
Kegiatan dikemas interaktif agar peserta lebih mudah memahami materi. “Ini bukan sekadar seminar, tapi ada praktik langsung dan simulasi counseling,” ujar Zahra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....