Puasa, Gerakan Kolektif Menjaga Kedaulatan Jasmani dan Rohani

  • 14 Feb 2026 15:47 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Puasa tidak sekadar menunda tegukan air atau suapan nasi, melainkan sebuah tindakan patriotisme biologis. Puasa adalah bentuk kesetiaan tertinggi seorang hamba kepada Sang Khalik, sekaligus pengabdian paling nyata seorang warga negara kepada bangsanya.

Momentum Ramadan tahun ini harus dijadikan "Titik Nol" sebuah awal untuk mengaktifkan kembali metode puasa yang telah diwariskan dalam setiap agama dan budaya. Sehingga puasa sebagai gerakan kolektif menjaga kedaulatan jasmani dan rohani Indonesia.

Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, dr Agus Ujianto M.Si.Med., Sp.B., FISQUa mengatakan tubuh manusia adalah sebuah markas besar yang megah. Namun seringkali ia lumpuh karena kemanjaan dan tumpukan residu yang tak perlu.

“Di sinilah puasa hadir laksana instruktur komando di Kawah Candradimuka seluler. Puasa memberikan tekanan yang terkontrol, sebuah hormetic stress yang memaksa setiap komponen biomolekuler untuk bangkit dari zona nyaman,” jelasnya dalam pesan tertulis, Sabtu 14 Februari 2026.

Laksana prajurit Kopassus, lanjut dia, tubuh ditempa dalam tekanan ekstrem agar mampu meraih kemenangan di medan laga. Dengan puasa, sel-sel dalam tubuh diberikan tantangan untuk mengaktifkan mekanisme Autofagi.

“Inilah momen kejujuran seluler, dalam kesunyian lapar, sel-sel tubuh melakukan detoksifikasi mandiri, mendaur ulang protein rusak, dan membuang sampah molekuler demi efisiensi yang paripurna. Puasa melatih sel untuk tidak bergantung pada "logistik" instan dari luar, melainkan membangkitkan kekuatan Imunitas Autologus—sebuah sistem pertahanan mandiri yang jauh lebih cerdas dan presisi,” ungkapnya.

Menurut dia, melalui puasa memicu regenerasi Stem Cell (sel punca) secara alami dalam tubuh. Sehingga melahirkan pasukan imun baru yang siap menjaga kedaulatan kesehatan.

“Kita sedang merajut kembali kesempurnaan ciptaan-Nya, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS. At-Tin: 4). Lebih dari sekadar biologi, puasa adalah pilar Patriotisme Nasional.,” ucapnya.

Dengan berpuasa, kita membantu negara menjaga ketahanan rakyatnya. Masyarakat yang terbiasa berpuasa adalah masyarakat yang mandiri secara kesehatan, memiliki mental yang tangguh dalam tekanan, dan memiliki kedaulatan atas nafsunya sendiri.

“Sinergi antara kebijakan fisik pemerintah, seperti pemenuhan gizi, dengan kebijakan puasa sebagai "pembersihan mesin" biologis. Ini akan melahirkan generasi emas yang produktif dan bebas dari beban penyakit degenerative,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....