Prof. Rycko Amelza Ajak Generasi Muda Rawat Kebhinekaan di Era Digital
- 01 Okt 2026 15:08 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Salatiga – Kasatgas Pusat Studi Terorisme, Komjen (Purn.) Prof. Rycko Amelza Dahniel, mengajak generasi muda turut merawat kebhinekaan dan menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi digital. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan menyaring informasi menjadi penting karena penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme kini semakin memanfaatkan ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Rycko saat menjadi pembicara dalam kuliah umum bertema “Merawat Kebhinekaan dan Menjaga Persatuan” di Balairung Utama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Kamis, 1 Oktober 2026. Ia menjelaskan, perkembangan teknologi informasi turut mengubah metode, sasaran, dan pola penyebaran ideologi ekstrem.
“Terorisme merupakan ancaman yang terus mengalami perubahan. Baik dari sisi metode, sasaran maupun pola penyebaran ideologinya,” ujar Kapolda Jateng masa jabatan 26 April 2019-1 Mei 2020 itu.
Menurut Rycko, jika sebelumnya ancaman terorisme lebih banyak terlihat melalui aksi kekerasan secara langsung, seperti pengeboman dan serangan bersenjata, kini penyebaran paham ekstrem juga berlangsung secara tersembunyi melalui ruang digital. Media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda, melakukan indoktrinasi secara virtual, hingga merekrut anggota baru.

Ia mengatakan, konten yang dikemas secara menarik dan disebarkan secara berulang berpotensi memengaruhi pola pikir, emosi, hingga perilaku masyarakat. Penyebaran radikalisme juga tidak selalu diawali dengan tindakan kekerasan, tetapi dapat berlangsung bertahap melalui paparan informasi yang memengaruhi cara pandang seseorang terhadap kelompok lain.
“Konten kekerasan, kebencian dan intoleransi yang dikonsumsi secara berulang berpotensi memengaruhi cara berpikir, emosi dan perilaku. Karena itu, kemampuan generasi muda dalam memahami dan menyaring informasi menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan terhadap paparan ekstremisme,” jelasnya.
Rycko menambahkan, pencegahan radikalisme dan ekstremisme tidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum setelah terjadi pelanggaran. Pendidikan dan peningkatan literasi digital diperlukan untuk membangun ketahanan masyarakat, terutama generasi muda.
Generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, serta membedakan fakta dan opini. Dengan kemampuan tersebut, mereka diharapkan tidak mudah terpengaruh propaganda maupun konten yang mengandung kebencian dan intoleransi.
“Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses akademik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun daya tahan masyarakat terhadap pengaruh ideologi kekerasan dan intoleransi,” ucapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol. Yuliyanto menegaskan, menjaga kebhinekaan dan persatuan merupakan tanggung jawab bersama. Terlebih, derasnya arus informasi digital membutuhkan peran aktif berbagai pihak dalam membangun kesadaran masyarakat.
Menurut Yuliyanto, kolaborasi antara Polri, perguruan tinggi, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat ketahanan generasi muda terhadap pengaruh radikalisme dan ekstremisme. Edukasi, literasi digital, dan dialog terbuka dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kebhinekaan sekaligus memperkuat persatuan.
“Kolaborasi antara Polri, perguruan tinggi, keluarga dan masyarakat sangat penting untuk membangun ketahanan generasi muda. Melalui edukasi, literasi digital dan dialog yang terbuka, kita dapat bersama-sama menjaga kebhinekaan sekaligus memperkuat persatuan dan keutuhan NKRI,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....