Rektor UIN Walisongo Ajak Mahasiswa Baru Jadi Global Student dan Berakhlak Islami

  • 23 Agt 2026 12:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang berlangsung khidmat dan penuh semangat di kampusnya, Baru-baru ini. Sebanyak 4.623 mahasiswa baru resmi disambut dan diterima menjadi bagian dari keluarga besar kampus berjuluk Campus of Unity of Sciences tersebut.

Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menyampaikan selamat datang sekaligus membakar semangat para mahasiswa baru untuk memulai perjalanan akademik mereka. "Selamat datang dan selamat bergabung dengan keluarga besar UIN Walisongo Semarang," ujarnya.

Rektor mengingatkan, UIN Walisongo merupakan kampus bereputasi yang memiliki visi besar di tingkat internasional. Kampus yang dikenal memiliki visi yang luar biasa yakni Leading Islamic Research University based on Unity of Sciences for Humanity and Civilization in 2038 (Menjadi Universitas Islam Riset Terdepan Berbasis Kesatuan Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan dan Peradaban pada Tahun 2038).

“Ini adalah visi UIN Walisongo Semarang yang siapapun, termasuk saudara-saudara generasi mahasiswa baru 2026 ini, memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk mewujudkannya secara bersama-sama, kolaboratif, dan bersinergi," tegasnya.

Di hadapan ribuan peserta PBAK 2026, Rektor menekankan agar seluruh mahasiswa baru senantiasa bersyukur atas kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sebab tidak semua pemuda di Indonesia beruntung mendapatkan kesempatan serupa.

"Untuk bisa menjadi mahasiswa seperti saudara-saudara, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang bisa dicapai oleh seluruh pemuda Indonesia. Banyak di antara teman-teman saudara yang tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi," tuturnya.

Ia mengimbau mahasiswa untuk memanfaatkan seluruh potensi kampus, mulai dari berinteraksi aktif dengan dosen dan guru besar, menghadiri diskusi serta konferensi nasional maupun internasional, hingga memanfaatkan fasilitas laboratorium dan organisasi kemahasiswaan (student interest maupun student welfare).

Mengutip pesan kebangsaan dan nilai keberagaman, Prof. Musahadi menyoroti latar belakang mahasiswa baru yang sangat heterogen, baik dari segi daerah asal, latar belakang ekonomi, hingga budaya (santri, priyayi, maupun abangan).

"Semua warna ini akan menjadi luar biasa produktif kalau masing-masing saudara kemudian bertemu, saling mengenal (ta'aruf), bersinergi melakukan ta'aruf, ta'allum, tafahhum, sampai kemudian berujung pada ta'awun—saling bersinergi, support, dan tolong-menolong untuk mencapai prestasi yang membanggakan," jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Musahadi mendorong mahasiswa untuk berpandangan luas di era digital dan tidak mengurung diri dalam ruang lingkup lokal semata. Pengembangan kemampuan akademik di era revolusi digital harus dilakukan oleh mahasiswa.

“Saudara-saudara harus meneguhkan diri menjadi global student, menjadi mahasiswa dunia. Manfaatkan network, internet, dan instrumen online untuk berjejaring dan berkompetisi secara global," serunya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....