Hadapi Era AI, UIN Walisongo Dorong Calon Guru Matematika Kreatif dan Adaptif
- 30 Sep 2026 08:32 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang: Calon guru matematika dituntut tidak hanya menguasai konsep dan rumus, tetapi juga mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan bermakna bagi siswa. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk menjawab anggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit sekaligus menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin dinamis.
Hal itu menjadi salah satu fokus dalam International Guest Lecture 2026 yang menghadirkan Prof. Dr. Mathias Ludwig dari Goethe Universität Frankfurt, Jerman, pada Selasa 29 september 2026.
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Musahadi, M.Pd., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab, integritas, dan semangat pengabdian. Menurutnya, pembentukan karakter profesional perlu berjalan seiring dengan penguasaan ilmu dan kemampuan pedagogis calon guru.
“Calon guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis dalam memahami matematika, tetapi juga perlu membangun identitas profesional melalui pengalaman belajar, refleksi, kolaborasi, dan pendampingan,” ujar Prof. Musahadi.
Ia juga menyoroti masih adanya anggapan di kalangan peserta didik bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Kondisi tersebut perlu dijawab melalui metode pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Sementara itu, Prof. Dr. Mathias Ludwig dari Goethe Universität Frankfurt, Jerman, menjelaskan, identitas profesional guru matematika tidak terbentuk secara instan. Identitas tersebut berkembang melalui pengalaman, nilai, keyakinan, praktik pedagogis, interaksi sosial, serta proses refleksi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, guru matematika tidak hanya bertugas menyampaikan konsep dan rumus kepada siswa, tetapi juga perlu menciptakan pengalaman belajar yang memberikan ruang bagi siswa untuk membangun pemahamannya sendiri.
“Guru harus mampu memberikan ruang kepada siswa untuk bertanya, mencoba, mengeksplorasi, menemukan strategi, dan membangun pemahaman mereka sendiri,” jelas Prof. Ludwig.
Dalam paparannya, Prof. Ludwig memperkenalkan sejumlah pendekatan pembelajaran matematika yang kreatif dan bermakna. Di antaranya project-based learning, mathematical modelling, permainan matematika atau math games, outdoor mathematics, integrasi matematika dengan seni atau Math & Art, pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga pengembangan asesmen inovatif.
Ia menjelaskan, pembelajaran matematika akan lebih bermakna apabila konsep yang bersifat abstrak dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Matematika dapat dihubungkan dengan lingkungan, budaya, sejarah, maupun persoalan sehari-hari sehingga siswa melihat matematika bukan sekadar kumpulan rumus.
Melalui kegiatan tersebut, Program Studi Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang berharap mahasiswa semakin siap menjadi pendidik yang kompeten sekaligus adaptif terhadap perubahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....