Dirjen Bimas Islam, Ketahanan Keluarga Fondasi SDM menuju Indonesia Emas

  • 15 Sep 2026 09:06 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Ketahanan keluarga dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia berkualitas sekaligus memperkuat ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, pembangunan manusia perlu dimulai dari lingkungan keluarga melalui pembinaan yang dilakukan sejak usia remaja hingga memasuki kehidupan berkeluarga.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI Abu Rokhmad dalam Studium Generale Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang bertajuk “Ketahanan Keluarga untuk Membentuk Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045”, Senin 14 September 2026

“Pembangunan manusia dimulai dari keluarga. Keluarga yang kuat melahirkan manusia yang sehat dan mampu menghadapi perubahan,” tuturnya.

Abu Rokhmad menjelaskan, Kementerian Agama memiliki peta jalan pembinaan keluarga tangguh yang dilakukan secara bertahap. Pembinaan tersebut dimulai dari Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN), Bimbingan Perkawinan (BIMWIN), pembinaan sebagai fondasi rumah tangga, Bina Keluarga Sakinah, hingga pendampingan dan rujukan.

Menurutnya, rangkaian pembinaan tersebut penting untuk mempersiapkan individu sejak masa remaja hingga memasuki kehidupan berkeluarga. Langkah itu diharapkan mampu membentuk generasi muda yang memiliki kesiapan dalam membangun keluarga tangguh sekaligus menghadapi berbagai perubahan sosial.

Rektor UIN Walisongo Semarang, Musahadi, menegaskan ketahanan keluarga memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan nasional. Menurutnya, keluarga tidak hanya berperan dalam membentuk karakter, tetapi juga berkaitan dengan aspek kesehatan, ekonomi, dan psikologi.

“Ketahanan nasional berasal dari ketahanan keluarga, berhubungan dengan soal kesehatan, ekonomi, dan psikologi,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Penyuluh Agama (IPARI), Elvi Anita Afandi, menyoroti posisi strategis mahasiswa generasi Z dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

“Penentu Indonesia Emas adalah kalian, mahasiswa Gen Z. Indonesia Emas mulai dari keluarga dan sumber daya manusia,” ungkapnya.

Elvi menilai ketahanan keluarga merupakan salah satu fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Untuk memperkuat fondasi tersebut, diperlukan peran Penyuluh Agama Islam (PAI) sebagai pendamping masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga.

“Apa yang disebut ketahanan keluarga adalah pondasi utama membangun Indonesia Emas. Membutuhkan profesi Penyuluh Agama Islam untuk menjadi pendamping ketahanan keluarga,” jelasnya.

Ia mendorong mahasiswa, khususnya yang tertarik menekuni profesi penyuluh agama, agar mulai mempersiapkan kompetensi sejak bangku kuliah. Kemampuan memahami dan mendengarkan persoalan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menjalankan peran tersebut.

“Sebagai penyuluh bisa mendengarkan masyarakat. Siapkan diri sebagai penyuluh sejak bangku kuliah,” pesannya.

Dekan FDK UIN Walisongo Semarang, Nasihun Amin, mengatakan Stu`dium Generale menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai pentingnya membangun ketahanan keluarga. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rektorat Lantai 4 UIN Walisongo Semarang tersebut menghadirkan Abu Rokhmad dan Elvi Anita Afandi sebagai narasumber.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dan peserta dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang. “Saya berharap semoga apa yang kita dapat menjadi acuan kita di masa depan,” ujarny

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....