Krisis Iklim Berdampak pada Ruang Hidup, SCU Dorong Penguatan Klaim Loss and Damage

  • 30 Sep 2026 08:14 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Perubahan iklim tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga meninggalkan kehilangan dan kerusakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kondisi ini mendorong perhatian Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Soegijapranata Catholic University (PMLP SCU) bersama Contesting Loss for Indonesian Communities in Climate Crisis (CLICCC) melalui Kuliah Umum, Talk show, dan Lokakarya bertajuk “Iklim dan Advokasi atas Loss and Damage sebagai perwujudan Keadilan Iklim” pada Selasa 29 September 2026.

Kegiatan mempertemukan akademisi, peneliti, dan masyarakat untuk membahas pengalaman komunitas yang menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat pemahaman mengenai kerangka Loss and Damage. Loss and Damage merujuk pada kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim yang tidak selalu dapat dicegah atau dipulihkan melalui upaya adaptasi.

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan SCU, Benny Danang Setianto, S.H., LL.M., MIL., Ph.D., menegaskan pentingnya mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat dalam membahas persoalan lingkungan.

“Persoalan iklim tidak cukup dibahas dari sisi lingkungan, tetapi perlu melihat pengalaman masyarakat yang berada langsung dalam situasi tersebut. Ruang akademik perlu menjadi tempat untuk mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman warga,” tegasnya.

Sementara, Kuliah umum menghadirkan narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, yaitu Dr. Hotmauli Sidabalok, S.H., M.H., C.N. (PMLP-SCU), Dr. Dewi Candraningrum, S.Pd., M.Ed. (Jejer Wadon Collective), dan Dr. Yesaya Sandang, S.H., M.Hum. (UKSW). Ketiganya mengangkat pengalaman masyarakat pesisir dan miskin kota, pengalaman perempuan dalam menghadapi krisis iklim, serta keterhubungan masyarakat dan ekosistem dari wilayah hulu hingga hilir.

Dr. Hotmauli menyoroti pengalaman masyarakat pesisir dan miskin kota di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Ia menyoroti dampak perubahan iklim terhadap ruang hidup dan mata pencaharian masyarakat.

“Pengalaman masyarakat pesisir menunjukkan bahwa kehilangan dan kerusakan akibat krisis iklim tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga ruang hidup dan keberlanjutan kehidupan masyarakat,” jelas Dr. Hotmauli.

Pembahasan diperluas melalui perspektif perempuan, Dr. Dewi menyoroti pengalaman perempuan dalam komunitas yang rentan terhadap perubahan iklim serta pentingnya perspektif tersebut dalam penyusunan klaim keadilan iklim.

“Perempuan dalam komunitas rentan menghadapi dampak perubahan iklim dengan pengalaman yang khas. Karena itu, perspektif perempuan perlu hadir dalam pembicaraan mengenai kehilangan, kerusakan, dan keadilan iklim,” terang Dr. Dewi.

Sedangkan, Dr. Yesaya mengangkat keterhubungan masyarakat melalui aliran air dari hulu hingga hilir. Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa dampak ekologis dapat berkaitan dengan kondisi masyarakat di wilayah lainnya.

“Dampak perubahan iklim tidak berdiri sendiri karena masyarakat di berbagai wilayah saling terhubung melalui ekosistem. Aliran air dari hulu hingga hilir menunjukkan bahwa persoalan ekologis perlu dilihat secara lebih menyeluruh,” pungkas Dr. Yesaya.

Pembahasan dilanjutkan melalui Talk show Warga Bicara yang menghadirkan perwakilan warga Banyusidi, Ketanggi, Tambakrejo, dan Timbulsloko dengan Didot Harimurti sebagai pemandu. Forum tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman berdasarkan kondisi lokal, mulai dari dampak yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari hingga yang terakumulasi dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....